17 November 2010

Memperbaiki

Selalu ada keinginan bagi jiwa-jiwa yang ingin memperbaiki dirinya dengan sesuatu yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Sayangnya tidak semua jiwa benar-benar tulus memperbaiki dirinya.
Rasa “Merasa Benar” membuat kita merasa tidak perlu memperbaiki apapun dari diri kita.
Padahal bila kita mau menilik lebih jauh lagi perasaan “Merasa Benar” hanya akan membuat kita jauh dari kebenaran.
Tidak ada sebuah kebenaran tanpa sebuah keinginan untuk memperbaiki.
Tidak ada sebuah kebenaran tanpa sebuah keinginan untuk melepaskan rasa bernama”Merasa Benar.”

4 November 2010

Assalamu’alaikum Sahabat

Sahabat, pernahkah sedikit saja ketika kesibukan merajai kita, pada saat itu pula kita mengingat-Nya dalam kelapangan hati? Sungguh rendah, ketika kita mencoba manafakurinya. Ketika aktifitas mengantri untuk dilaksanakan. Tugas-tugas berjubel, sementara waktu semakin sempit dan beribu satu aktifitas lainnya yang menyita pikiran, perhatian serta waktu kita. Bahkan waktu utama kita untuk dekat kepada-Nya saja menjadi nomor kesekian, bukan prioritas. Shalat. Kita pun lupa untuk saling mengingatkan, dengan teman, sahabat, bahkan orang tua kita yang dekat sekli dengan kita. Apakah ini seorang muslim dan muslimah yang dikatakan sebagai mujahid sholeh dan mujahidah sholehah? Apakah ini sorang muslim dan muslimah yang selalu memperjuangkan Islam? Bahkan dengan satu hal kecil saja kita sudah kalah dengan lemahnya diri? Pada saat sekarang kita sadar akan kelemahan kita, tapi apakah kesadaran itu membuat kita angkuh untuk tidak mengingatkan yang lain. Bukankah Rasul pun selalu memberikan apa yang terjadi padanya sebagai pelajaran bagi umatnya.

Sahabat, pernahkah kita mengukur diri kita dengan apa yang telah kita targetkan sebelumnya? Target-target yang menjadi infestasi kita untuk melangkah. Manajemen waktu yang kita buat, sudahkah menjadi hal yang bermanfaat bagi orang lain? Ketika kita hanya melihat pada waktu yang kita butuhkan untuk diri kita, apakah kita teah membagi waktu itu menjadi waktu untuk dunia dan peradaban? waktu yang terus berjalan dan tak kan pernah berulang mundur sedetik pun. Manfaatkanlah waktu duniamu sahabat, untuk mempersiapkan mu pada hari berakhirnya dunia nanti dan waktu peradaban untuk memastikan langkahmu pada kehidupan Islam yang akan datang.

15 Oktober 2010

Inginku Berbalik Arah

Diantara riuhan angin, aku berlari melawan kearahnya
Menembus, berontak.
Tak takut apa pun yang akan menghalangiku.

Aku mengejar asa dalam gelap.
Samar, tak tentu arahnya
Pudar, tak jelas ujungnya.

Aku berhenti sejenak,
Berhenti melangkahkan kaki.
Mencoba bercermin,
Berkaca akan hidupku

Ternyata, selama ini aku salah,

Inginku berbalik arah
Berbalik ke jalan kecerahan
Yang lebih jelas arah ujungnya
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...