Setiap main ke
kost-kostan teman di sekitaran kampus, saya selalu teringat masa-masa kuliah ketika
saya masih menjadi mahasiswa. Memang masih belum lama saya menikmati hidup
sebagai seorang sarjana kadaluarsa. Bagi saya ini sebuah prestasi, karena sudah
berbagai macam masalah, rintangan, cobaan dan penderitaan berhasil saya lewati.
Masa kuliah saya memang
cukup lama. Hanya butuh satu semester tambahan saja, maka kemungkinan besar
saya DO dari kampus. Manis, asam, asin, pahit perjalanan sebagai mahasiswa
sudah pernah saya lewati. Julukan dari mulai junior, senior, mahasiswa tingkat
akhir, sampai mahasiswa tingkat dewa sudah pernah saya rasakan. Dari mulai anak
kucing baru lahir, sampai dia punya cucu sudah pernah saya lihat.
Pernah satu waktu saya sengaja berkunjung ke gedung fakultas untuk meminta legalisir ijazah dan transkrip nilai. Padahal hari sedang hujan dan saya sedang flu, tapi ini penting. Di sana banyak sekali wajah-wajah penuh penderitaan yang tidak begitu asing. Mereka itu adik tingkat saya yang saat ini sedang menunggu kedatangan dosen pembimbing skripsi. Memang, aktifitas menjadi mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi terlihat begitu menderita. Dalam sehari bisa berkali-kali bulak-balik ke perpustakaan, jutaan kali bertatap muka dengan laptop, seminggu 13.134 kali bimbingan dengan dosen dan berpuluh-puluh kali servis printer. Hal-hal itu kemarin pernah saya rasakan dan sudah saya lewati.
“ Ehhh kang, ngapain kesini kan udah lulus ? “
“ Ini mau minta legalisir ijazah ” jawaban saya disertai senyuman penuh kesombongan
dan ingus yang muncul malu-malu. Kali ini pertanyaan tentang lulus dan wisuda
tidak mungkin saya dengar lagi. Hahahaha *senyum jahat*
“ Ooh mau ngelamar kemana ? “
“ Ngelamar kamu ! “
Tidak-tidak, kalimat
yang terakhir saya ralat saja. Karena yang ngobrol dengan saya itu laki-laki.
Saya gak mau dengan dia. Saya gak suka laki-laki. Laki-laki itu egois, gak
peka, dan suka gak tepat janji. Dan yang paling penting saya menghargai fitrah
untuk tetap berpasangan dengan lawan jenis.
Memang disana cukup
banyak adik tingkat saya yang sedang berkumpul. Wajahnya saya kenal, tapi
sebagian orang namanya saya lupa. Tapi ya pura-pura ingat saja lah. Saya ikut
duduk diantara mereka. Mereka banyak bertanya kepada saya tidak jauh seputaran
skripsi. Saya jawab sebisanya saja, yang pernah saya alami, sisanya seadanya
saja, takut salah. Kadang-kadang saya di-bully,
apalagi masalah umur. Soal itu saya ga bisa bantah, memang diantara kami saat
itu saya yang paling tua.
“ Kang kemarin aku ulang tahun loh, gak akan ngasih selamat
nih ? “
“ Oiya ? Wah wah selamat ya, ulang tahun yang
keberapa ini ? “
” Baru 21 kok, jauh lah sama umur akang mah hahaha .
. . “
“ Hmmmmmmmm “
dalam hati saya terbesit pikiran jahat . . .“
Hellaaaw kemana aja kamu baru umur 21, saya udah dari dulu kali “
Setelah itu saya pamit
keluar, karena perut saya seperti ada yang nendang-nendang. Saya pikir ini
hamil, tapi untungnya cuma lapar. Akhirnya saya pergi ke kantin untuk makan
siang. Disana saya lihat Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu berumur 50 tahunan masih terlihat
muda dengan aktifitas yang dijalaninya. Saya jadi ingat pembahasan tadi seputar
ulang tahun dan umur. Otak saya tiba-tiba berputar untuk berfikir pada tahap
mana kita bisa menentukan bagaimana seseorang bisa disebut orang tua atau orang
muda.
Berdasarkan referensi
hasil pengamatan dan teori jalanan yang saya pakai, saya memberanikan diri
untuk menarik sebuah kesimpulan yang tidak ilmiah. Bagi saya ukuran muda atau
tua itu tidak bisa hanya diukur dengan tingkatan umur. Cara berpakaian, cara bercerita,
pembawaan pada aktifitas harian, semangat yang berapi-api bisa jadi ukuran
lain. Diluar itu mungkin masih banyak lagi ukuran yang bisa dipakai. Tapi ini
hanya teori jalanan yang saya pakai. Menerima tidak menerima, memang sudah
kodrati umur pasti akan bertambah. Tapi itu hanya sekedar angka, berjiwa muda
adalah pilihan selamanya. Bukan begitu ?

Eta nu ngobrol jeung lalaki aya kata2 lamar kitu asli da, cuma can dilegalkeun menikah sesama jenis, jd hereuy cenah. Sudah saya duga :v
BalasHapus