11 Maret 2016

Potong Saja Kukunya

Anggap saja sekarang ini kita sedang ngobrol, jadi nanti tidak ada miskomunikasi. Saya juga gak  mau dianggap sedang bicara sendiri, jadi sekali lagi anggap saja kali ini kita sedang ngobrol. Tapi kalau bisa jangan berdua supaya setan gak bisa ikut campur. Terimakasih kalau sudah mengerti, kita lanjutkan lagi.
Kali ini saya tidak akan bicara tentang banyak hal. Saya tidak akan membahas tentang gulungan kulit kabel yang menyumbat gorong-gorong di Jakarta. Saya tidak akan menyinggung jadwal Liga Champion Eropa yang akan berlangsung minggu ini. Saya juga tidak akan sangkut-pautkan kasus yang dialami Saepul Jamil kedalam cerita ini.

Sebetulnya saya ingin bercerita kalau saya adalah pria yang rajin potong kuku. Sebagai informasi, saya baru saja potong kuku. Padahal belum sampai satu sentimeter sudah saya potong. Entah itu kuku jari tangan, atau juga kuku jari kaki. Tidak perlu menunggu hari Jumat atau menunggu diperiksa oleh guru olahraga.  Kalau sudah merasa kurang nyaman, sudah pasti saya potong.
Ngomong-ngomong soal potong kuku, kemarin saya dipaksa menggantikan peran Mamah Dedeh, tempat curhat skala nasional. Semua orang di penjuru negara sudah tahu siapa beliau, apalagi dengan kalimat “Mah curhat dong” yang sudah cukup akrab di telinga kita semua. Tapi mudah-mudahan saja keputusan teman saya tidak salah karena memilih saya untuk menjadi tempat curhatnya.
Kemarin saya diculik ke warung kopi dan dipaksa untuk mendengarkan curhat dari teman saya yang tidak mau disebutkan namanya. Dia laki-laki, katanya dia sedih karena kisah cintanya hampir kandas. Hubungan yang sudah dijalaninya cukup lama dan sampai bertahun-tahun sedang mengalami masalah. Katanya, semenjak lulus kuliah dan bekerja ditempat berbeda, intensitas bertemu dengan pacarnya jadi jarang dan dari sana sering timbul permasalahan ini dan itu. Dia sempat berfikir untuk mengakhiri hubungan dengan pacarnya itu. Tapi masih ragu, makanya dia cerita.
Kalau semuanya saya simpulkan, permasalahan utama yang dialami oleh teman saya itu adalah masalah komunikasi. Karena intensitas bertemu jarang, maka semua komunikasi berlangsung melalui aplikasi chatting. Karena semuanya tidak dikomunikasikan dengan baik, maka telah timbul segala bentuk salah sangka dan kecurigaan dari pihak yang satu kepada pihak yang lain. Tapi itu baru perkiraan saya. Untuk masalah ini, saya tidak mau dibilang ‘sotau’ atau ‘sotoy’ atau apalah-apalah. Jadi saya tidak mau terlalu terburu-buru membantu teman saya dalam mencari solusi atas permasalahan yang sedang dialaminya. Saya pikir mengakhiri sebuah hubungan adalah hal yang kurang baik. Akhirnya waktu itu saya hanya menyuruh dia agar menunda keputusannya. Kalau tanpa perhitungan dan pemikiran yang matang saya takut dia salah mengambil keputusan. Syukur-syukur kalau keputusannya betul, kalau salah saya yakin dia akan curhat lagi. Dan teman saya setuju, akan mempertimbangkan keputusannya matang-matang.
Lantas apa dengan potong kuku ? Sebetulnya kalau tadi tidak potong kuku, saya sudah lupa masalah ini.  Emang ada kaitannya ? Saya harap kamu hanya penasaran saja, gak penasaran banget. Karena lagi-lagi saya akan gunakan teori jalanan yang tidak ilmiah untuk sedikitnya meminimalisir kemungkinan terburuk dari permasalahan yang dialami teman saya itu.
Sepintas kegiatan memotong kuku memang terlihat seperti pekerjaan yang sia-sia. Habis dipotong, tumbuh lagi. Potong lagi, besok lusa sudah tumbuh lagi. Seolah-olah serba salah. Mau dipotong salah, gak dipotong juga salah. Tapi sebetulnya, persoalan utama bukan pada kukunya. Ada hal lain yang menjadi fokus utama dan menjadi sangat penting. Entah apa namanya, tapi saya menyebutnya kotoran kuku. Walaupun jumlahnya secuil, tapi dampaknya luar biasa. Karena kotoran kuku, orang ganteng bisa terlihat jorok. Karena kotoran kuku juga, orang jelek bisa nampak menjijikan.
Terus hubungannya apa ? Begini, kalau saya tidak berfikir panjang dan menganggap bahwa aktifitas memotong kuku adalah hal yang melelahkan juga sia-sia, mungkin sudah sejak dahulu sudah saya potong tangan saya. Dengan begitu saya percaya tidak mungkin ada kotoran beserta kukunya. Tapi saya tahu resikonya bagaimana kalau saya kehilangan tangan. Mungkin hari ini saya tidak bisa menulis atau untuk sekedar makan dengan nikmat. Nah, karena saya tidak mau hal itu terjadi, maka upaya yang saya lakukan untuk menghilangkan kotoran itu adalah dengan memotong kukunya terlebih dahulu, bukan tangannya. Kalau saya kaitkan permasalahan teman saya tadi. Sepertinya keputusan untuk mengakhiri hubungan dengan pacarnya adalah keputusan yang salah. Ibaratnya potong kuku, hal yang harus diselesaikan adalah inti permasalahannya, bukan hubungannya. Menurut saya, adanya pertengkaran, bukan karena ada hubungan, tapi karena ada permasalahan. Jadi potong saja kukunya, bukan tangannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...