Anggap
saja sekarang ini kita sedang ngobrol, jadi nanti tidak ada miskomunikasi. Saya
juga gak mau dianggap sedang bicara
sendiri, jadi sekali lagi anggap saja kali ini kita sedang ngobrol. Tapi kalau
bisa jangan berdua supaya setan gak bisa ikut campur. Terimakasih kalau sudah
mengerti, kita lanjutkan lagi.
Kali ini saya tidak
akan bicara tentang banyak hal. Saya tidak akan membahas tentang gulungan kulit
kabel yang menyumbat gorong-gorong di Jakarta. Saya tidak akan menyinggung
jadwal Liga Champion Eropa yang akan berlangsung minggu ini. Saya juga tidak
akan sangkut-pautkan kasus yang dialami Saepul Jamil kedalam cerita ini.
Sebetulnya
saya ingin bercerita kalau saya adalah pria yang rajin potong kuku. Sebagai
informasi, saya baru saja potong kuku. Padahal belum sampai satu sentimeter
sudah saya potong. Entah itu kuku jari tangan, atau juga kuku jari kaki. Tidak
perlu menunggu hari Jumat atau menunggu diperiksa oleh guru olahraga. Kalau sudah merasa kurang nyaman, sudah pasti
saya potong.
Ngomong-ngomong
soal potong kuku, kemarin saya dipaksa menggantikan peran Mamah Dedeh, tempat
curhat skala nasional. Semua orang di penjuru negara sudah tahu siapa beliau,
apalagi dengan kalimat “Mah curhat dong” yang
sudah cukup akrab di telinga kita semua. Tapi mudah-mudahan saja keputusan
teman saya tidak salah karena memilih saya untuk menjadi tempat curhatnya.
Kemarin
saya diculik ke warung kopi dan dipaksa untuk mendengarkan curhat dari teman
saya yang tidak mau disebutkan namanya. Dia laki-laki, katanya dia sedih karena
kisah cintanya hampir kandas. Hubungan yang sudah dijalaninya cukup lama dan
sampai bertahun-tahun sedang mengalami masalah. Katanya, semenjak lulus kuliah
dan bekerja ditempat berbeda, intensitas bertemu dengan pacarnya jadi jarang
dan dari sana sering timbul permasalahan ini dan itu. Dia sempat berfikir untuk
mengakhiri hubungan dengan pacarnya itu. Tapi masih ragu, makanya dia cerita.
Kalau
semuanya saya simpulkan, permasalahan utama yang dialami oleh teman saya itu
adalah masalah komunikasi. Karena intensitas bertemu jarang, maka semua
komunikasi berlangsung melalui aplikasi chatting.
Karena semuanya tidak dikomunikasikan dengan baik, maka telah timbul segala
bentuk salah sangka dan kecurigaan dari pihak yang satu kepada pihak yang lain.
Tapi itu baru perkiraan saya. Untuk masalah ini, saya tidak mau dibilang
‘sotau’ atau ‘sotoy’ atau apalah-apalah. Jadi saya tidak mau terlalu
terburu-buru membantu teman saya dalam mencari solusi atas permasalahan yang
sedang dialaminya. Saya pikir mengakhiri sebuah hubungan adalah hal yang kurang
baik. Akhirnya waktu itu saya hanya menyuruh dia agar menunda keputusannya. Kalau
tanpa perhitungan dan pemikiran yang matang saya takut dia salah mengambil
keputusan. Syukur-syukur kalau keputusannya betul, kalau salah saya yakin dia
akan curhat lagi. Dan teman saya setuju, akan mempertimbangkan keputusannya
matang-matang.
Lantas
apa dengan potong kuku ? Sebetulnya kalau tadi tidak potong kuku, saya sudah
lupa masalah ini. Emang ada kaitannya ? Saya
harap kamu hanya penasaran saja, gak penasaran banget. Karena lagi-lagi saya
akan gunakan teori jalanan yang tidak ilmiah untuk sedikitnya meminimalisir
kemungkinan terburuk dari permasalahan yang dialami teman saya itu.
Sepintas
kegiatan memotong kuku memang terlihat seperti pekerjaan yang sia-sia. Habis
dipotong, tumbuh lagi. Potong lagi, besok lusa sudah tumbuh lagi. Seolah-olah
serba salah. Mau dipotong salah, gak dipotong juga salah. Tapi sebetulnya,
persoalan utama bukan pada kukunya. Ada hal lain yang menjadi fokus utama dan
menjadi sangat penting. Entah apa namanya, tapi saya menyebutnya kotoran kuku.
Walaupun jumlahnya secuil, tapi dampaknya luar biasa. Karena kotoran kuku,
orang ganteng bisa terlihat jorok. Karena kotoran kuku juga, orang jelek bisa
nampak menjijikan.
Terus
hubungannya apa ? Begini, kalau saya tidak berfikir panjang dan menganggap
bahwa aktifitas memotong kuku adalah hal yang melelahkan juga sia-sia, mungkin
sudah sejak dahulu sudah saya potong tangan saya. Dengan begitu saya percaya
tidak mungkin ada kotoran beserta kukunya. Tapi saya tahu resikonya bagaimana kalau
saya kehilangan tangan. Mungkin hari ini saya tidak bisa menulis atau untuk
sekedar makan dengan nikmat. Nah, karena saya tidak mau hal itu terjadi, maka
upaya yang saya lakukan untuk menghilangkan kotoran itu adalah dengan memotong
kukunya terlebih dahulu, bukan tangannya. Kalau saya kaitkan permasalahan teman
saya tadi. Sepertinya keputusan untuk mengakhiri hubungan dengan pacarnya
adalah keputusan yang salah. Ibaratnya potong kuku, hal yang harus diselesaikan
adalah inti permasalahannya, bukan hubungannya. Menurut saya, adanya
pertengkaran, bukan karena ada hubungan, tapi karena ada permasalahan. Jadi
potong saja kukunya, bukan tangannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar