8 Maret 2016

Ya, Begitu Lah

Uhuk…Uhuk! Batuk dulu ya.
Sudah dua hari saya melakukan ritual nomaden di rumah teman. Memang setiap akhir pekan, beberapa diantara kami biasanya berkumpul untuk menyelesaikan persoalan utang piutang, main kartu, makan-makan, nonton bareng atau mungkin diskusi macam-macam hal yang kadang ilmiah, juga kadang kurang ilmiah. Bagi saya ngumpul itu proses berbagi, apa saja yang mau dibagi terserah, mungkin materi, cerita, kesempatan, informasi, atau apa saja.
Setelah melewati proses ngumpul yang begitu menyenangkan, akhirnya saya putuskan untuk pulang ke rumah, karena Mamah sudah nelpon dan saya disuruh cepat pulang. Tumbenan saya pikir, biasanya juga sms. Saya jadi khawatir kalau-kalau ada urusan keluarga yang mendadak atau jangan-jangan saya akan dijodohkan dengan anak tetangga. Ini tidak boleh terjadi, karena saya belum mandi, kecuali besok pagi, itu juga kalau saya gak kesiangan. 
Berangkatlah saya menggunakan motor yang terparkir di garasi kostan. Saya sudah pastikan itu adalah motor milik saya, bukan milik tetangga. Dengan anggun saya tunggangi si Honda kesayangan saya. Oke saya kasih bocoran sedikit tentang dia (motor). Motor saya ini keturunan Jepang, merek Honda yang namanya sudah sangat dikenal sejak Kakek saya masih hobi maen layangan. Keluarga saya terutama kakek dan nenek, mempunyai kepercayaan bahwa yang namanya motor adalah Honda. Mungkin orang-orang di beberapa wilayah di Indonesia juga mengalami hal seperti ini. Sama halnya dengan menyebut air minum kemasan dengan kata aqua, menyebut pasta gigi dengan kata odol, atau menyebut sirup lebaran dengan kata orson. Saya pikir itu pertanda bahwa orang Indonesia mempunyai otak dengan kapasitas memori yang tak terhingga. Karena dengan satu kata, pengaruhnya bisa sampai tujuh turunan. Ini mau cerita apa ya?
“Assalamualaikum, Mah ada apa tadi kok kayaknya penting ?”
“Itu tolong bantuin si Ade ngerjain PR matematika, susah !”
Sesampainya di rumah, perasaan saya sedikit lega karena urusan perjodohan tidak benar-benar terjadi. Tapi kali ini saya harus membantu adik saya menyelesaikan PR matematika yang memang setelah saya lihat cukup membuat dahi saya mengerut.
“Kok perasaan belum pernah liat soal kayak begini”, saya sedikit pesimis karena tidak bisa membantu. Perasaan jaman saya sekolah dulu, soal-soal PR gak susah kayak begini ini. Jangan-jangan ini konspirasi! Jangan-jangan ini persekongkolan supaya siswa jadi bingung. Kalau menurut naluri intelejensi saya yang beberapa tingkat lebih cerdas dari burung peliharaan Pak RT, memang ada upaya-upaya dari segelintir orang dalam rangka mengobrak-abrik sistem pendidikan di negara kita. Lantas dimana letak konspirasinya?  Begini, kurikulum pendidikan di negara kita menyajikan banyak sekali mata pelajaran yang menuntut siswa supaya mengerti semuanya. Semua mata pelajaran itu ada PR nya, dan rata-rata makin kesini makin susah. Alhasil tidak sedikit siswa yang kesulitan dan jadi bingung. Kalau siswa bingung, dia jadi malas. Kalau siswa malas, dia bisa bolos sekolah. Kalau banyak yang bolos sekolah, dipastikan akan lahir generasi ‘bodoh’. Sampai akhirnya kualitas manusia di negara kita menjadi sangat rendah. Kalau kualitas manusia rendah, maka produktifitas rendah. Produktifitas manusia yang rendah menyebabkan peluang untuk bekerja juga kecil atau bahkan menganggur. Kalau banyak pengangguran, kesempatan melamar wanita jadi kecil, kemungkinannya melahirkan banyak jomblo. Banyak jomblo menyebabkan tingkat kesedihan meningkat. Orang-orang sedih bisa jadi stress, bisa jadi gila atau bunuh diri. Kira-kira begitu alurnya, ini jelas bahaya kan?
Tapi saya harus tetap berprasangka baik, jangan-jangan memang saya yang gak bisa menyelesaikan soal-soal PR matematika itu. Saya penasaran, lantas saya jungkir balik serong kanan serong kiri baca buku materi matematika kelas 2 SMA. Buka internet, baca sana sini. Yes, ini ada ! Akhirnya ada titik terang. Dengan segenap sisa-sisa kekuatan, saya bantu adik saya menyelesaikan PR nya. Sambil mengibas-ngibas rambut, saya jelaskan kalau soal ini tentang bla bla bla, dan cara menyelesaikannya itu dengan bla bla bla.
Kalau kita tarik kebelakang, saya sempat berfikir bahwa soal itu tidak bisa saya kerjakan. Tapi karena kebiasaan penasaran yang saya lakukan, akhirnya ada jalan keluarnya. Memang saya itu orang dengan tingkat penasaran yang cukup tinggi. Saya yakin betul kalau pelajaran pertama dalam hidup adalah bergerak. Bergerak itu sebuah upaya. Mengupayakan sesuatu meski hasilnya sudah bisa diprediksi akan gagal, tetap harus dilakukan. Kalau berhasil pasti bahagia, kalau gagal paling kecewa. Bagi saya, kecewa dan bahagia itu bukan hasil yang absolut atau output terakhir. Keduanya masih bisa diolah menjadi, misalnya kreatifitas dalam menulis, inspirasi dalam membuat karya atau jadi pengalaman berharga. Yang penting mengupakayan dulu, kecewa atau bahagia jadi urusan belakangan. Karena bagi saya, diri kita selalu lebih baik dari apa yang kita pikirkan. Kok bisa? Ya, begitu lah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...