![]() |
| sumber : google image |
Tulisan
ini bukan hasil karya saya. Ini saya simpan karena menarik, entah siapa yang
membuatnya, yang jelas saya dapatkan dari seorang teman di Facebook. Isi
tulisannya telah membuat saya merindukan sosok seorang ibu, ditengah kesibukan
saya mengejar urusan duniawi.
=========
Orang
bilang anakku seorang aktivis. Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana.
Orang bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang disebutnya
amanah umat. Orang bilang anakku seorang aktivis. Tapi bolehkah aku sampaikan
padamu nak ? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.
Anakku, sejak
mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu
seorang aktivis. Dengan segala kesibukkanmu,ibu berusaha mengerti betapa engkau
ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti
itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang
sia-sia nak ? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk
membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak,tanpa pernah ibu berfikir
bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.
Anakku, kita
memang berada disatu atap nak,di atap yang sama saat dulu engkau bermanja
dengan ibumu ini. Tapi kini dimanakah rumahmu nak? ibu tak lagi melihat jiwamu
di rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah, dengan penuh doa agar
Allah senantiasa menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut. Mungkin
tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk
ibu yang begitu merindukanmu. Ah,lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti,bahwa
engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum
untuk ibu. Atau jangankan untuk tersenyum, sekedar untuk mengalihkan pandangan
pada ibumu saja engkau tidak, katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline.
Padahal, andai kau tahu nak, ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari
ini, memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasehat yang ibu yakin
engkau pasti lebih tahu. Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak,tapi
bukankah aku ini ibumu ? yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku..
Anakku,
ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu
mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk
mengkader anggotamu. Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, ibu bangga
padamu . Namun, sebagian hati ibu mulai bertanya nak, kapan terakhir engkau
menanyakan kabar ibumu ini nak ? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti
engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ? kapan terakhir engkau menanyakan
keadaan adik-adikmu nak ? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari
anggota organisasimu nak ?
Anakku, ibu
sungguh sedih mendengar ucapanmu. Saat engkau merasa sangat tidak produktif
ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang nak, menghabiskan
waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau
buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan .Tapi
bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak? bukankah keluargamu ini adalah
amanahmu yang juga harus kau jaga nak?
Anakku, ibu
mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat
nak, ada rapat disana sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal bertemu dengan
tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada sekumpulan
agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi
lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana. Ternyata memang
tak ada nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada
cita-cita untuk ibumu ini. Padahal nak, andai engkau tahu sejak kau ada dirahim
ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda
untukmu, putra kecilku..
Kalau
boleh ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris
yang profesional. Boleh ibu bertanya nak, dimana profesionalitasmu untuk ibu? dimana
profesionalitasmu untuk keluarga? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala
prioritas yang kau buat ?
Ah,waktumu
terlalu mahal nak. Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar
engkau bisa bersama ibu.
Setiap
pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta, ibu,
ayah, kaka dan adik .Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik. Dan hingga
saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan. Tentang rasa
cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan. Tentang rindu
kebersamaan yang terlambat teruntai.
Untuk
mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus, untuk mereka sang penopang
semangat juang ini. Saksikanlah, bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu
atas segala aktivitas yang kita lakukan. Karena tanpa ridhamu, mustahil
kuperoleh ridhaNya..."
Sumber : Dari Grup Facebook

Tidak ada komentar:
Posting Komentar