Prediksi saya sudah terjawab kalau teman-teman akan
berkata ‘tumben’ ketika saya memakai batik, celana katun dan sepatu pantofel di hari minggu. Sebelumnya ada
juga yang ter-heran-heran ketika saya mandi terlalu pagi tidak seperti
biasanya. Mungkin dalam pikiran mereka, Allah telah mengirimkan hidayah-Nya
melalui mimpi ketika saya tidur. Padahal, rasa-rasanya tidak begitu, karena
malamnya saya mengalami handsomenia, semacam
gejala sulit untuk tidur tapi in sha Allah
tetap tampan.
Pagi itu saya diundang untuk menghadiri pernikahan
seseorang, yang tidak lain adalah teman saya sendiri. Teman saya itu adalah
pengantin pria, usianya lebih tua satu tahun diatas saya. Disana juga sudah
berkumpul banyak orang, termasuk teman-teman saya yang lain yang juga diundang
ke acara pernikahannya. Setelah semuanya siap, kami berangkat menuju lokasi
dimana akan dilaksanakannya pernikahan.
Begitu sampai di dekat lokasi, tiba tiba rombongan
kami disuruh berbaris rapih oleh seorang bapak yang ditunjuk menjadi wakil dari
pihak mempelai pria. Kemudian kami berjalan pelan menuju sebuah gedung yang
sudah terisi oleh sekelompok orang dari mempelai wanita yang sudah menunggu kedatangan
kami. Pengantin dan beberapa perwakilan duduk di kursi khusus dan sisanya duduk
di kursi yang telah disediakan. Saya dan beberapa teman kebetulan duduk di
jajaran kursi urutan kedua, jadi bisa melihat dengan jelas prosesi akad nikah
yang berlangsung.
“Saya nikahkan
bla bla bla bla bla …..“
“Saya terima bla
bla bla bla bla ….”
“Saaaaaahhhhh
….”
“Alhamdulillah”
Semuanya tiba-tiba tersenyum, ada juga yang tertawa
kecil melihat pasangan pengantin yang telah sah menjadi suami istri dalam sebuah
ikatan keluarga. Kedua pengantin mengangkat sebuah buku kecil berwarna hijau
dan merah. Secara jelas mata saya melihat, walaupun mereka telah sah menjadi
suami dan istri, tapi di dalam buku itu foto mereka ditempel terpisah. Kalau
saya lihat di media sosial, banyak orang yang belum menikah sudah pasang foto
mesra berduaan, wong yang sudah nikah
saja masing-masing, lah yang belum sudah berani begitu. Ini artinya saya sirik,
pertanda tak mampu.
Secara tiba-tiba dari arah kanan telinga, teman saya
mengeluarkan bisikan halus yang cukup menyindir dan menghentikan kegiatan saya
yang sedang mengambil potret kegiatan pengantin.
“ Kamu kapan
nikah ?”.
Dalam pikiran saya, pertanyaan singkat itu terdengar
berulang. Yang jelas, saat itu saya terpaksa mengeluarkan jurus lama untuk
menjawabnya.
“Kalau sudah
indah pada waktunya, nanti saya undang semua”
“Ya kapan ?”
“Nyari calonnya
dulu, kecuali bisa solo karir”
Kami tertawa lalu kemudian beranjak untuk menikmati
hidangan yang telah disediakan. Bagi saya dan orang-orang yang senasib, sarapan
di acara pernikahan adalah kesempatan untuk mengurangi resiko gizi buruk. Biasanya
saya sarapan pada jam makan siang, supaya bisa sekalian. Apalagi kalau akhir
bulan, paling ‘banter’ makan rendang atau empal gentong yang di ekstrak dalam
bentuk mie instan.
Sehabis makan-makan dan minum-minum, saya masih
kepikiran soal pertanyaan tadi. Sialnya, teman-teman saya yang lain memang
sudah pada menikah. Walaupun ada yang belum, setidaknya mereka sudah punya calon
untuk dinikahi. Akhirnya saya putuskan untuk segera bernegosiasi dengan
perasaan saya saat itu. Permasalahannya, saya mau menikah juga belum bisa,
calonnya belum ada. Sekarang ini saya jomblo yang single. Kemauan sih sudah ada semenjak masakan saya terasa asin,
mungkin itu gejala awalnya. Tapi kemampuan belum mendukung, jadi mau gimana
lagi.
Sebetulnya pertanyaan tadi bukan yang pertama saya
dengar, tapi sudah sering. Terutama kalau lagi ngumpul dengan keluarga, ya
sudah pasti bakal ditanya, selain soal wisuda. Akhirnya, saya cuma bisa
senyum-senyum sendiri kalau ditanya soal keduanya.
Bagi saya, pernikahan bukan hal yang sederhana,
perlu kekuatan lahir juga batin. Kalaulah keduanya sudah saya miliki, dengan
sepenuh hati saya siap, apalagi kalau sudah ada calonnya. Tujuan pernikahan
memang memelihara kesucian diri dan melaksanakan tuntunan syariat. Semuanya
juga mau, termasuk saya. Usaha pilih pasangan sudah dicoba, tapi belum ada yang
mau dipilih. Nyari pasangan saja susah, apalagi gonta-ganti pasangan. Artinya
saya tidak berbakat menjadi seorang buaya darat, tapi keadaan memaksa saya menjadi
seorang buaya darurat.
Saya masih percaya kalau urusan jodoh sudah diatur
oleh Sang Wujud. Semuanya sudah pernah dinegosiasikan sebelum saya lahir ke
dunia ini. Kalaulah jodoh itu ada di tangan Allah, tugas saya sekarang hanya mendekati
Allah dengan cara-cara yang diperintahkan-Nya. Jangan-jangan Allah punya
rencana lain, tapi kita belum tahu. Yang jelas saya masih harus terus
memperbaiki diri, karena wanita yang baik pasti ingin lelaki yang baik.
NB : Ini tulisan jaman dulu, sengaja diposting untuk nambah materi di blog.
NB : Ini tulisan jaman dulu, sengaja diposting untuk nambah materi di blog.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar