2 Maret 2016

Urusan Jodoh

Prediksi saya sudah terjawab kalau teman-teman akan berkata ‘tumben’ ketika saya memakai batik, celana katun dan sepatu pantofel di hari minggu. Sebelumnya ada juga yang ter-heran-heran ketika saya mandi terlalu pagi tidak seperti biasanya. Mungkin dalam pikiran mereka, Allah telah mengirimkan hidayah-Nya melalui mimpi ketika saya tidur. Padahal, rasa-rasanya tidak begitu, karena malamnya saya mengalami handsomenia, semacam gejala sulit untuk tidur tapi in sha Allah tetap tampan.
Pagi itu saya diundang untuk menghadiri pernikahan seseorang, yang tidak lain adalah teman saya sendiri. Teman saya itu adalah pengantin pria, usianya lebih tua satu tahun diatas saya. Disana juga sudah berkumpul banyak orang, termasuk teman-teman saya yang lain yang juga diundang ke acara pernikahannya. Setelah semuanya siap, kami berangkat menuju lokasi dimana akan dilaksanakannya pernikahan.

Begitu sampai di dekat lokasi, tiba tiba rombongan kami disuruh berbaris rapih oleh seorang bapak yang ditunjuk menjadi wakil dari pihak mempelai pria. Kemudian kami berjalan pelan menuju sebuah gedung yang sudah terisi oleh sekelompok orang dari mempelai wanita yang sudah menunggu kedatangan kami. Pengantin dan beberapa perwakilan duduk di kursi khusus dan sisanya duduk di kursi yang telah disediakan. Saya dan beberapa teman kebetulan duduk di jajaran kursi urutan kedua, jadi bisa melihat dengan jelas prosesi akad nikah yang berlangsung.   

“Saya nikahkan bla bla bla bla bla …..“
“Saya terima bla bla bla bla bla ….”
“Saaaaaahhhhh ….”
“Alhamdulillah”

Semuanya tiba-tiba tersenyum, ada juga yang tertawa kecil melihat pasangan pengantin yang telah sah menjadi suami istri dalam sebuah ikatan keluarga. Kedua pengantin mengangkat sebuah buku kecil berwarna hijau dan merah. Secara jelas mata saya melihat, walaupun mereka telah sah menjadi suami dan istri, tapi di dalam buku itu foto mereka ditempel terpisah. Kalau saya lihat di media sosial, banyak orang yang belum menikah sudah pasang foto mesra berduaan, wong yang sudah nikah saja masing-masing, lah yang belum sudah berani begitu. Ini artinya saya sirik, pertanda tak mampu.
Secara tiba-tiba dari arah kanan telinga, teman saya mengeluarkan bisikan halus yang cukup menyindir dan menghentikan kegiatan saya yang sedang mengambil potret kegiatan pengantin.

“ Kamu kapan nikah ?”.

Dalam pikiran saya, pertanyaan singkat itu terdengar berulang. Yang jelas, saat itu saya terpaksa mengeluarkan jurus lama untuk menjawabnya.

“Kalau sudah indah pada waktunya, nanti saya undang semua”
“Ya kapan ?”
“Nyari calonnya dulu, kecuali bisa solo karir”

Kami tertawa lalu kemudian beranjak untuk menikmati hidangan yang telah disediakan. Bagi saya dan orang-orang yang senasib, sarapan di acara pernikahan adalah kesempatan untuk mengurangi resiko gizi buruk. Biasanya saya sarapan pada jam makan siang, supaya bisa sekalian. Apalagi kalau akhir bulan, paling ‘banter’ makan rendang atau empal gentong yang di ekstrak dalam bentuk mie instan.

Sehabis makan-makan dan minum-minum, saya masih kepikiran soal pertanyaan tadi. Sialnya, teman-teman saya yang lain memang sudah pada menikah. Walaupun ada yang belum, setidaknya mereka sudah punya calon untuk dinikahi. Akhirnya saya putuskan untuk segera bernegosiasi dengan perasaan saya saat itu. Permasalahannya, saya mau menikah juga belum bisa, calonnya belum ada. Sekarang ini saya jomblo yang single. Kemauan sih sudah ada semenjak masakan saya terasa asin, mungkin itu gejala awalnya. Tapi kemampuan belum mendukung, jadi mau gimana lagi.

Sebetulnya pertanyaan tadi bukan yang pertama saya dengar, tapi sudah sering. Terutama kalau lagi ngumpul dengan keluarga, ya sudah pasti bakal ditanya, selain soal wisuda. Akhirnya, saya cuma bisa senyum-senyum sendiri kalau ditanya soal keduanya.

Bagi saya, pernikahan bukan hal yang sederhana, perlu kekuatan lahir juga batin. Kalaulah keduanya sudah saya miliki, dengan sepenuh hati saya siap, apalagi kalau sudah ada calonnya. Tujuan pernikahan memang memelihara kesucian diri dan melaksanakan tuntunan syariat. Semuanya juga mau, termasuk saya. Usaha pilih pasangan sudah dicoba, tapi belum ada yang mau dipilih. Nyari pasangan saja susah, apalagi gonta-ganti pasangan. Artinya saya tidak berbakat menjadi seorang buaya darat, tapi keadaan memaksa saya menjadi seorang buaya darurat.

Saya masih percaya kalau urusan jodoh sudah diatur oleh Sang Wujud. Semuanya sudah pernah dinegosiasikan sebelum saya lahir ke dunia ini. Kalaulah jodoh itu ada di tangan Allah, tugas saya sekarang hanya mendekati Allah dengan cara-cara yang diperintahkan-Nya. Jangan-jangan Allah punya rencana lain, tapi kita belum tahu. Yang jelas saya masih harus terus memperbaiki diri, karena wanita yang baik pasti ingin lelaki yang baik.


NB : Ini tulisan jaman dulu, sengaja diposting untuk nambah materi di blog.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...