2 Maret 2016

"G" si Jendela Dunia

Malam ini tiba-tiba saya kepikiran untuk menulis lagi. Entah kenapa keinginan itu muncul begitu saja setelah saya menghidupkan laptop di meja belajar. Setelah saya berfikir tentang hal apa yang akan saya tuliskan, saya putuskan untuk mengambil  segelas air hangat dicampur gula dan teh celup untuk teman saya kalau-kalau saya haus.
Glek Glek Glek Glek, Aaaaaaahhhhh !
Jangan kaget, saya tadi minum dulu, jangan buru-buru, tenang.
Oia, ngomong-ngomong soal menulis, saya memang rajin menulis. Setiap hari saya menulis, mulai dari sms, BBM, Whatsup, Line dan masih banyak lagi. Seharusnya sekarang ini saya sudah masuk kategori sebagai seorang penulis belum terkenal. Tapi sayangnya banyak orang yang tidak percaya. Jujur untuk menulis sesuatu yang panjang, runtut, dan berkesinambungan saya belum memiliki kemampuan untuk itu. Saya terbiasa dengan  artikel singkat, opini kilat atau puisi yang kadang-kadang tanpa makna.

Di laptop saya cukup banyak draf-draf tulisan yang memang belum saya selesaikan. Alasannya memang karena saya belum jago untuk membagi-bagi waktu. Ketika saya membuka draf tulisan saya yang lama, saya malah bingung. Ini dulu mulainya gimana dan kenapa ada tema ini. Beberapa diantaranya saya sudah lupa, kalau harus menyelesaikannya, berarti saya harus membaca ulang. Membaca ulang membuat pikiran saya semakin bingung. Maka daripada saya membaca ulang, lebih baik saya bikin yang baru. Jadi saya harus komitmen untuk menyelesaikan setiap tema yang dipilih dalam satu waktu supaya tidak ada yang terlantar begitu saja.

Memang sebelumnya kegiatan ngelantur saya dalam tulisan agak sedikit terganggu oleh satu hal. Saya tarik garis ke masa lalu. Sebuah peristiwa yang mengubah hidup saya. Kuliah !
Eh eh tapi ini beneran loh, saya pernah kuliah. Kemarin-kemarin saya pernah menjadi seorang mahasiswa yang menyelesaikan masa kuliahnya pada semester 2 digit. Ya 2 digit, tepatnya 13 semester ! Saya sudah pernah ceritakan prosesnya waktu itu. Tahu gak ? Itu loh yang kemarin. Masih belum inget juga? Oke saya ceritakan lagi, begini ceritanya……….
“@$%&*^^%$%%^&^&^*(&*^^%$%##%^&&(&(^&%$&*()_&^$#@@^&*)+_*&$#@!@$%^(((&&))*__&&^^%%$$#@!#$%^&((&^%$$#@@#$%*()__)(*&^%%$##%^&^%$@)#@O##(#(###&#%%#$*((.....”
Nah kurang lebih begitu, udah jelas kan semuanya ? Jangan ngambek kalau belum jelas, nanti saya sumpahin supaya jadi lebih penyabar.
Teman-teman dan adik tingkat bilang kalau saya terlalu lama makan bangku kuliah. Tapi sebetulnya saya cuma duduk, gak makan bangku kuliah. Saya takut nanti rayap marah-marah kalau saya ikutan makan.

Walaupun waktu kuliah saya cukup lama, tapi nilai IPK saya termasuk kategori sangat memuaskan, apa lagi kalau ditambah nasi, bisa jadi sangat mengenyangkan. Kalau urusan pelajaran di kelas, saya bisa bersaing dengan yang lainnya. Yang bikin saya lama kuliah itu skripsi. Kalu saja kelulusan kuliah diganti dengan ujian nasional, mungkin saya sudah lulus dari dulu. Tapi ini baru mungkin, belum tahu kalau memang beneran.

Bicara soal skripsi, memang sekitar minggu-minggu kebelakang saya begitu dipusingkan oleh makhluk yang satu ini. Orang-orang menyangka sudah 2 tahun, padahal baru hitungan minggu. Kalau dijumlahkan, sekitar 90 minggu saya berkutat dengan skripsi. Ya, namanya juga usaha menghibur diri supaya gak kelihatan terlalu lama. Sebenarnya skripsi saya bisa selesai dalam dua bulan saja. Tapi semuanya baru selesai dipikiran dan belum saya ketik, apalagi dikonsultasikan dengan dosen pembimbing.

Informasi yang lebih pentingnya, dua bulan kemarin saya akhirnya wisuda. Alhamdulillah, akhirnya Ibu dan Bapak bisa ngambil raport, keluarga juga ikut, tapi Pak RT enggak datang, soalnya lagi sibuk ngurusin pembangunan masjid di dekat rumah.

Dulu kalau sedang rajin nulis skripsi, kegiatan harian saya berubah menjadi sangat ilmiah. Kegiatannya kalau enggak baca-baca materi pendukung di buku ya buka laptop cari informasi di internet. Jaman sekarang segala informasi bisa diakses melalui internet. Berbagai macam bacaan, buku, novel, jurnal, artikel, opini dan lainnya ada di internet. Semuanya pasti setuju kalau jaman sekarang mencari informasi itu sangatlah mudah, apalagi dengan adanya layanan mesin pencari di internet bernama Google Search. Apa saja yang kamu mau tahu akan Google berikan dalam hitungan detik, itupun kalau sinyalnya bagus dan kuota internetnya ada. Semuanya sudah serba enak, tinggal ketik ini itu sudah ada jawabannya. Saya jadi kepikiran dan ingin melamun bagaimana orang jaman dulu mencari informasi, apalagi sebelum ada ensiklopedia.

“ Tok tok tok, Assalamualaikum”
“ Waalaikumsalam, ada apa gerangan Kisanak bertamu malam-malam begini ? ”
“ Begini. Hhmmm, apa kamu tahu cara menghitung persamaan kuadrat? “
“ Saya kira Kisanak harus bertanya kepada Plato, beliau guru segala ilmu”
“ Dimana kiranya saya bisa bertemu dengan Plato ? “
“ Berjalanlah ke Barat, melewati 7 laut, 5 bukit dan 12 siluman, rumah Plato ada di ujung jembatan “
“ Baiklah terimakasih, saya titip keluarga dan jemuran “

Nah, jaman sekarang semuanya sudah terbantu. Tinggal tuliskan saja keyword di mesin pencari Google, pasti informasinya keluar.  Google itu hampir bisa jawab semua pertanyaan dari segala ilmu. Mulai dari ilmu putih sampai ilmu hitam. Bahkan dalam dunia pendidikan, Google itu sudah dianggap cukup membantu. Karena banyaknya orang yang mengakses layanan yang disediakan oleh Google, akhirnya saya pikir, semua pekerjaan sangat tergantung oleh Google. Karena Google menyimpan segala informasi, seharusnya perumpamaan tentang buku sudah diganti. Kalau dulu buku itu jendela dunia, jaman sekarang harus diganti jadi “Google itu jendela dunia, punya kuota adalah kuncinya”.
.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...