Jalan
setapak kecil menjadi santapan mataku yang mulai layu. Tubuh ini basah
diselimuti keringat yang terus bercucuran. Angin mulai mengencang, udara
menjadi dingin. Nafas sesekali menjadi sesak, mungkin oksigen sudah mulai
menipis di ketinggian. Ranselku masih mengait di pundak, kaki ini masih ingin
berjalan. Batu-batu terjal menjadi pijakan, akar-akar yang kokoh menjadi
pegangan.
Dalam
beberapa kesempatan, kadang kala aku memilih memutar jalan. Lebih terjal dan
lebih beresiko. Entah bagaimana pilihan itu datang secara tiba-tiba.
Aku dimudahkan dengan rasa yakin walau harus menghabiskan waktu yang panjang. Pilihan hatiku membuat jantung lebih berdegup kencang, melecut kaki berjalan lebih jauh. Tapi mau bagaimana, nuraniku telah berkata demikian, bukan karena nafsu yang telah membawaku hanyut.
Aku dimudahkan dengan rasa yakin walau harus menghabiskan waktu yang panjang. Pilihan hatiku membuat jantung lebih berdegup kencang, melecut kaki berjalan lebih jauh. Tapi mau bagaimana, nuraniku telah berkata demikian, bukan karena nafsu yang telah membawaku hanyut.
Sebagaian
dari mereka mungkin telah sampai di puncak. Memilih jalan yang pendek dan lebih
mudah. Bagiku, ini hanya tentang
mengupayakan yang terbaik, sekalipun harus memutar jauh. Tugasku hanya
melakukan yang terbaik, dengan niat paling tulus. Belatiku masih cukup tajam
untuk menebas semak yang menghalangi. Kaki tanganku masih cukup kuat terus menelusuri
jalan. Pundakku masih kuat untuk sekedar menopang ransel.. Masih sanggup
kuperjuangkan siapapun dia yang menemaniku sepanjang perjalanan jauh ini, tak
berarti bagi mereka yang menungguku di puncak sana. Aku akan terus berjalan,
menelusuri jalan menemukan pelajaran.
Di ujung pendakian, aku telah belajar banyak
dari perjalananku yang panjang dan jauh. Sampai di puncak hanya ada batu, tak
ada harta atau istana. Tetapi ada kebahagiaan saat berada di sini, bukan karena materi,
atau karena telah berhasil menaklukan gunung lalu bisa menyombongkan diri. Kebahagiaanku bukan karena itu, bahkan lebih jauh
dari itu.
Kau tahu? Di atas sini aku melihat apa yang tak
terlihat dari bawah sana. Pandanganku menajam menikmati keindahan alam yang
seperti berujung. Ketika Sang Wujud memperlihatkan kuasa-Nya, lewat lukisan
nyata di atas hamparan bumi ini, hanya
syukur yang bisa mewakili. Saat semesta menunjukkan keajaiban ciptaan-Nya di
bawah bentangan langit itu, telah mengecil hatiku. Mulut dan hatiku tak henti
mengucap syukur, betapa Agung Dzat yang menciptakan ini semua.
Apakah kau juga tahu? Telah mengalir dalam diriku sebuah
kecintaan pada perjalanan sebuah petualangan. Entah kapan dan sampai kapan akan
terus menikmati perjalanan ini. Telah berkesan bagiku sebuah keheningan,
semuanya tidak berarti kosong. Beberapa jawaban telah ku temukan, bagaimana
seharusnya kita hidup menjadi manusia dan memanusiakan manusia.
Hey, kau hanya belum mengerti, belum mengerti. Jika kau pernah bertanya mengapa waktu itu harus mendaki, semua yang pernah dialami sepanjang
perjalanan adalah alasan yang telah mengajari. Jika masih belum mengerti, jangan coba bertanya lagi. Berjalanlah denganku ke sini dan temukan jawabanmu sendiri. Di
sini di puncak gunung ini, telah banyak arti yang diketahui. Dalam
kepulanganku, aku telah menjadi aku yang baru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar