3 Januari 2015

Petualangan Panjang

Matahari begitu terik, menyengat begitu kuat. Kulit ini terasa perih, seperti terbakar api yang panas. Sesekali aku menepi untuk sekedar membasahi tenggorokan yang sudah mulai mengering. Kusandarkan tubuhku pada batang pohon di tepi jalan. Sempat terbayang untuk kembali turun, tapi tekadku tak sampai di situ.
Jalan setapak kecil menjadi santapan mataku yang mulai layu. Tubuh ini basah diselimuti keringat yang terus bercucuran. Angin mulai mengencang, udara menjadi dingin. Nafas sesekali menjadi sesak, mungkin oksigen sudah mulai menipis di ketinggian. Ranselku masih mengait di pundak, kaki ini masih ingin berjalan. Batu-batu terjal menjadi pijakan, akar-akar yang kokoh menjadi pegangan.
Dalam beberapa kesempatan, kadang kala aku memilih memutar jalan. Lebih terjal dan lebih beresiko. Entah bagaimana pilihan itu datang secara tiba-tiba.

Aku dimudahkan dengan rasa yakin walau harus menghabiskan waktu yang panjang.  Pilihan hatiku membuat jantung lebih berdegup kencang, melecut kaki berjalan lebih jauh. Tapi mau bagaimana, nuraniku telah berkata demikian, bukan karena nafsu yang telah membawaku hanyut.
Sebagaian dari mereka mungkin telah sampai di puncak. Memilih jalan yang pendek dan lebih mudah. Bagiku, ini hanya tentang mengupayakan yang terbaik, sekalipun harus memutar jauh. Tugasku hanya melakukan yang terbaik, dengan niat paling tulus. Belatiku masih cukup tajam untuk menebas semak yang menghalangi. Kaki tanganku masih cukup kuat terus menelusuri jalan. Pundakku masih kuat untuk sekedar menopang ransel.. Masih sanggup kuperjuangkan siapapun dia yang menemaniku sepanjang perjalanan jauh ini, tak berarti bagi mereka yang menungguku di puncak sana. Aku akan terus berjalan, menelusuri jalan menemukan pelajaran.
Di ujung pendakian, aku telah belajar banyak dari perjalananku yang panjang dan jauh. Sampai di puncak hanya ada batu, tak ada harta atau istana. Tetapi ada kebahagiaan saat berada di sini, bukan karena materi, atau karena telah berhasil menaklukan gunung lalu bisa menyombongkan diri. Kebahagiaanku bukan karena itu, bahkan lebih jauh dari itu.
Kau tahu? Di atas sini aku melihat apa yang tak terlihat dari bawah sana. Pandanganku menajam menikmati keindahan alam yang seperti berujung. Ketika Sang Wujud memperlihatkan kuasa-Nya, lewat lukisan nyata  di atas hamparan bumi ini, hanya syukur yang bisa mewakili. Saat semesta menunjukkan keajaiban ciptaan-Nya di bawah bentangan langit itu, telah mengecil hatiku. Mulut dan hatiku tak henti mengucap syukur, betapa Agung Dzat yang menciptakan ini semua.
Apakah kau juga tahu? Telah mengalir dalam diriku sebuah kecintaan pada perjalanan sebuah petualangan. Entah kapan dan sampai kapan akan terus menikmati perjalanan ini. Telah berkesan bagiku sebuah keheningan, semuanya tidak berarti kosong. Beberapa jawaban telah ku temukan, bagaimana seharusnya kita hidup menjadi manusia dan memanusiakan manusia. 
Hey, kau hanya belum mengerti, belum mengerti. Jika kau pernah bertanya mengapa waktu itu harus mendaki, semua yang pernah dialami sepanjang perjalanan adalah alasan yang telah mengajari. Jika masih belum mengerti, jangan coba bertanya lagi. Berjalanlah denganku ke sini dan temukan jawabanmu sendiri. Di sini di puncak gunung ini,  telah banyak arti yang diketahui. Dalam kepulanganku, aku telah menjadi aku yang baru. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...