Walaupun angin begitu kencang, tak menghalangi saya
untuk pergi keluar rumah malam ini untuk sekedar berkumpul dengan teman-teman
dari komunitas penggiat alam bebas. Sudah cukup lama memang saya bergabung
dengan komuitas itu. Sesuai kesepakatan, kami akan berkumpul sambil bersantap
kopi ‘ceria’ di sebuah angkringan dekat kampus ITB.
Sepertinya saya terlambat. Setelah tiba di lokasi,
nampaknya sudah banyak yang berkumpul disana. Saya salami mereka satu persatu
ditambah dengan senyuman termanis yang pernah saya miliki. Kedatangan saya
disambut oleh gelak tawa mereka yang entah sedang ngobrol masalah apa. Saya
baru datang, jadi kurang ngerti. Setelah mulai beradaptasi, saya mulai bisa
mengerti kalau obrolan mereka adalah tentang pemberian nama pada anak mereka kalau
sudah menikah nanti. Karena keseringan berpetualang di alam bebas terutama
pegunungan, jadinya nama-nama anak yang mereka sebut tidak jauh dari hobi kami
sendiri. Misalnya saja Asep Burangrang, dari nama gunung di Bandung. Putera
Mahameru, dari sebuah puncak tertinggi di Pulau Jawa. Atau Rengganis, sebuah
puncak di Gunung Argopuro.
“Ngaran budak maneh saha, Yan?“ tanya seorang teman
“Hmmmm, saha nya? Kumaha engke weh“
Kami sama-sama tertawa ketika membahas masalah nama
anak kami nanti. Kalau kata orangtua, sebuah nama adalah doa. Jadi jangan
sampai kita asal-asalan memberikan nama. Kebanyakan orangtua ingin memberi
anaknya dengan nama kearab-araban. Alih-alih ingin kelihatan keren dan supaya
jadi anak sholeh/ah, jangan sampai salah memberi nama. Bahasa Arab kan bahasa
negeri orang lain, jangan sampai gak tahu artinya. Misal saja kita ngasih nama
Abu Lahab pada anak kita nanti. Padahal sudah jelas-jelas kalau nama itu
dikutuk oleh Allah dan diterangkan dalam Al-Qur’an. Urusannya kan bisa berabe
kalau begini nantinya.
Biasanya kalau lagi ngumpul-ngumpul dengan teman,
akan banyak sekali yang hal dibahas, walaupun tidak jelas arahnya. Benar saja,
selesai membahas nama anak, kami membahas kegiatan masa kecil, jajanan
tradisional, pengalaman petualangan alam bebas, asal-usul manusia sampai gosip
yang tidak mau ketinggalan. Dan untuk yang terakhir itu, saya mengambil
kesimpulan bahwa, dalam sebuah perkumpulan jangan sampai pulang lebih dulu
dibandingkan yang lain. Karena jika kehabisan tema saat ngobrol, bisa-bisa kita
yang akan jadi bahan pembicaraan untuk sekedar tertawa.
Dari beberapa obrolan, semua dari kami menggunakan
teori-teori jalanan. Karena kami biasa hidup di jalanan, jadi teori yang kami
gunakan juga teori jalanan. Walaupun jauh dari kata ilmiah, tapi tujuan kami
hanya ingin tertawa bersama, bukan menyaingi teori-teori yang sudah dibuktikan
keandalannya. Inilah yang namanya ngeyel,
tapi pada tempatnya.
Bagi saya, tertawa bersama lebih mengasikkan
daripada tertawa sendiri. Bisa-bisa saya diringkus dan dibawa ke RSJ karena
keseringan tertawa sendiri, urusannya akan ribet karena disangka orang gila.
Ngomong-ngomong soal orang gila, saya jadi teringat sebuah teori yang
mengatakan mahwa Mensana incore pore sano
(entah bagaimana menuliskannya, tolong koreksi saya jika salah). Didalam
tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, kurang lebih begitu artinya, saya
ragu dengan teori itu. Sering saya temui beberapa orang gila di jalanan
memiliki tubuh yang sehat, mereka bisa saja berlari kencang, menari-nari, bernyanyi,
dan saya rasa jarang sekali mereka sakit, sehat bukan?. Tapi masalahnya, jiwa
mereka yang tidak kuat, jadilah disebut gila.
Bagi orang Indonesia, ngumpul adalah kegiatan yang
tidak asing dan sangat lumrah. Ada orang meninggal, ngumpul mendoakan. Harga
BBM naik, ngumpul demonstrasi. Mau begadang, ngumpul di pos ronda. Bahkan kalau
ada yang kecelakaan di jalan raya juga mendadak pada ngumpul. Apalagi kalau ada
banjir dan gunung meletus, semuanya bisa ngumpul di posko darurat.
Bagi saya, ngumpul adalah praktek menjadi makhluk
sosial. Sebagai
makhluk sosial, manusia pasti berinteraksi satu sama lain, saling kerja sama,
saling bantu, saling menolong, atau saling apapun itu namanya. Proses ‘saling’
ini jelas tujuannya, minimalnya membuat senyum satu sama lain.
Persoalan ngumpul memang sederhana. Susah senang
yang penting ngumpul, itu kata kultur orang Sunda. Bagi saya berkumpul adalah
cara mengikat tali silaturahim antar sesama. Kalau ngumpul, yang punya banyak
sesuatu bisa berbagi, yang punya sedikit sesuatu ya bisa kebagian. Ngumpul
adalah cara berbagi. Mau berbagi kebahagiaan, kesedihan atau rejeki lainnya.
Yang jelas, kalau sama-sama terasa lebih menyenangkan. Tentunya pada hal
positif supaya bisa menenangkan. Ngumpul Yuk !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar