11 Desember 2014

Masih Ada Kesempatan

Sudah lama sekali saya tidak berkunjung ke kampus. Bukan karena saya terlalu banyak kesibukan, tapi karena belum punya bekal untuk menengok kampus juga bertemu Bapak dosen tercinta. Skripsi ! Itulah yang menjadi bekal saya, yang sampai saat ini belum juga saya selesaikan. Beberapa teman mulai bertanya tentang skripsi saya, jadwal ujian sidang, gelombang wisuda, bahkan hal-hal yang belum sempat terpikirkan seperti meminang wanita idaman. Lah, pacar saja tidak punya, mana bisa saya menikah, memangnya bisa kalau  solo karir ?

“Semua ada waktunya, akan saya kabari nanti “ jawab saya pada mereka.

Sebagian dari mereka mungkin menganggap saya terlalu sibuk naik gunung dan kegiatan alam bebas, atau bermain-main bersama orang-orang luar seperti alien-alien atau makhluk luar lainnya. Ada juga yang menganggap bahwa saya sudah menjadi alumni saking jarangnya saya muncul di kampus atau sekedar ‘setor’ batang hidung yang kurang mancung ini.


Sebetulnya saya gak sibuk-sibuk amat. Bangun tidur saya terbagi dua sesi. Sesi pertama, saya bangun pas waktu sholat shubuh. Kalau di rumah itu wajib dilakukan, lengah sedikit bisa-bisa kena ‘semprot’ sama Mamah. Sesi kedua, saya bangun yah sedikit agak pagi, sekitar jam sembilan hampir mendekati sepuluh. Itu jadwal pasti kalau saya lagi ada di rumah. Kalau di tempat kos bisa jadi sesi dua saja yang sering saya lakukan. Jadwal makan saya tidak teratur, makan kalau ada makanan, atau minum kalau hanya ada minuman, yang pasti hanya mandi supaya lebih kelihatan keren. Yang baru kenal saya mungkin manganggap saya orang aneh, misterius, cara berpakaian seadanya atau dengan brewok yang penuh filosofi. Apaan? Memang yang saya punya cuma ini, gak ada yang lain.

Aduh rasanya saya mau garuk kepala. Akhir-akhir ini semua jadi pertanyaan, gak datang ke kampus ditanya, datang ke kampus juga ditanya, skripsi ditanya, belum lulus apalagi, urusan nikah dan pekerjaan tetap juga tidak luput dari pertanyaan.

Yang jelas, saya memang belum lulus, saya masih berkutat dengan skripsi yang lebih mirip dengan novel, atau sepertinya lebih mirip cerpen. Skripsi, berdagang, mengajar privat, naik gunung, keluyuran dan nongkrong adalah aktifitas saya yang menguras banyak waktu. Beginilah saya, urusan skripsi dan keuangan selalu bentrok. Dan uang bisa jadi alasan utama kenapa saya agak mengurangi jarak dengan skripsi.

Sudah dua tahun lebih saya mencari uang sendiri, walaupun kadang ada uang jajan dari orangtua sebagai tambahan, tapi ya saya sudah malu kalau dikasih uang sama orang tua. Bukan maksud sombong, tapi saya ini sudah dewasa, jenggot dan brewok sudah memenuhi wajah saya, masa masih numpang jajan juga.

Sebetulnya skripsi saya bisa diselesaikan dalam waktu sebulan, tapi ya itulah, sudah ada hasil mikir sebulan, skripsinya gak diketik juga, jadi ya gak selesai-selesai. Dan sekarang sudah berbulan-bulan, saya sudah nunggak pada skripsi, semakin lama semakin malu untuk bertemu apalagi menyentuhnya.

Sudah beribu-ribu mantra orang-orang ucapkan agar saya cepat lulus kuliah. tapi ya pengaruhnya sebentar, paling satu atau dua hari saja, ya kesananya hilang lagi efeknya. Entahlah, urusan lulus bagi saya bukan yang utama. “Cepat wisuda, cepat lulus, cepat cari kerja” mantra-mantra itu sudah saya ingat baik-baik walau akhirnya juga saya lupa. Ya, saya ini orang yang pelupa, bahkan saya juga lupa sendiri kalo saya itu seorang pelupa.

Bagi saya, selembar ijazah hanya selembar kertas biasa, tidak akan jadi syarat kalau-kalau saya nanti mendaftar ke KUA atau saat membuat Kartu Keluarga. Saya kurang tertarik pada acara wisuda, wisudawan? saya tidak tertarik dan bahkan sudah dari dulu saya betul-betul tidak tertarik, saya lebih tertarik pada seorang wisudawati. Dia akan lebih menarik dan lebih menggugah selera, apalagi kalau menemani mengerjakan skripsi, akan menjadi semangat, pasti akan cepat kelar itu skripsi.

Setelah mengalami banyak tekanan, dorongan dan hasil-hasil saya berkontemplasi akhirnya saya melanjutkan untuk kembali berteman akrab dengan makhluk bernama skripsi. Entah mengapa, makhluk ini sulit diajak kerjasama. Sudah sekuat tenaga dan pikiran saya curahkan untuk dia, hanya untuk dia. Tapi tetap saja, saya menganggap bahwa skripsi saya ini sudah cukup keren, penilaian Bapak dosen selalu berbeda. Dan saya telah lupa, bahwa salah satu cara untuk melihat diri dan hasil pekerjaan sendiri adalah melalui mata orang lain.
“Masa skripsi seperti ini, coba perbaiki EYD nya, sudah sejak kecil kan belajar Bahasa Indonesia yang baik?” itulah yang dikatakan bapak dosen sewaktu saya datang menyambung silaturahim melalui kegiatan bimbingan. Wooowww, ternyata skripsi saya kurang pantas disebut sebagai karya ilmiah yang baik, EYD masih ancur dimana-mana. Saat itu saya hanya bisa menunduk, sambil sesekali melirik dosen dengan gugup dan ingus yang ingin muncul malu-malu.

Tidak sampai disitu, saya terus mencoba memperbaiki skripsi saya dan kembali melakukan bimbingan, walau akhirnya tetap sama hasilnya, bahkan beberapa kali saya ganti judul skripsi saya semaunya. “Biar cepat lulus” saya pikir begitu, walau belum waktunya juga.

Dari proses bimbingan skripsi dengan dosen, ternyata saya gagal menjadi mahasisiswa yang baik. Saya kurang serius dalam menyelesaikan kewajiban saya sebagai mahasiswa. Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang disusun dengan sistematika yang sudah ditentukan, lebih tepatnya disepakati. Ya disepakati, semua aturan yang ada adalah hasil kesepakatan. Undang-undang yang berlaku adalah hasil kesepakatan, aturan lalu lintas adalah hasil kesepakatan, bahkan nama buah-buahan, nama peralatan dapur dan nama-nama hari pun adalah hasil kesepakatan. Masalahnya, saya tidak hadir ketika mereka membuat kesepakatan, ya mau tidak mau saya harus ikutan sepakat, daripada dilempar batu sama banyak orang.

Skripsi adalah karya tulis ilmiah. Setiap karya tulis ilmiah selalu dibuat karena ada masalah yang muncul karena harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Dan saya gagal menemukan masalah, saya gagal mencari masalah. Saya memang ditakdirkan lahir untuk tidak menjadi orang yang bermasalah, sudah sejak kecil saya diajarkan untuk tidak mencari-cari masalah, makannya dalam persoalan skripsi saya kurang pandai menentukan masalahnya.

Saat ini, saya sudah masuk pada daftar mahasiswa semester dua digit. Waktu normal saya sebagai mahasiswa sudah lewat, jadi sekarang saya lebih pantas disebut sebagai mahasiswa kadaluarsa. Sesuatu yang kadaluarsa itu tidak baik, bisa menjadi racun dan menyebabkan kematian. Apakah saya bisa menyebabkan kematian, saya pikir jangan. Hanya Allah yang dapat menghidupkan dan mematikan setiap makhluk.

“Maaf Mamah, saya terlambat, anakmu ini sudah banyak mengecewakanmu, dan sampai saat ini belum juga sarjana” hanya itu yang bisa saya ucapkan ketika saya sadar bahwa saya lalai menyelesaikan kuliah saya. Ya, kali ini saya harus tetap fokus menyelesaikan kewajiban saya sebagai mahasiswa. Walaupun saya terlalu telat menjadi sarjana, yang jelas saya harus segera menghilangkan kekhawatiran orangtua terutama Mamah, saudara dan teman-teman saya yang selalu memberi semangat lewat mantra dan doa untuk kesuksesan saya meraih gelar sarjana.

Tidak masalah bagi saya telat menjadi sarjana dan mendapat ijazah. Ya mau bagimana lagi, Nasir sudah menjadi tukang bubur, saya tidak bisa mengulang waktu ke  masa lalu tanpa bantuan Doraemon. Seperti kata Mas Didik, guru yang belum pernah saya temui, telatnya saya menjadi sarjana seperti masbuk saat menjalankan sholat berjamaah. Seorang yang seperti saya telah ketinggalan dari seorang imam dan jamaah lainnya, tidak bersama saat salam dan doa. Tapi walaupun begitu, saya tetap yakin, sekalipun seorang yang masbuk telah tertinggal dari imam dan jamaah lainnya, suatu saat dia berpotensi menjadi imam saat ada yang menepuk bahu kanannya. Bukan begitu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...