Sudah lama sekali saya tidak berkunjung ke kampus.
Bukan karena saya terlalu banyak kesibukan, tapi karena belum punya bekal untuk
menengok kampus juga bertemu Bapak dosen tercinta. Skripsi ! Itulah yang
menjadi bekal saya, yang sampai saat ini belum juga saya selesaikan. Beberapa
teman mulai bertanya tentang skripsi saya, jadwal ujian sidang, gelombang
wisuda, bahkan hal-hal yang belum sempat terpikirkan seperti meminang wanita
idaman. Lah, pacar saja tidak punya,
mana bisa saya menikah, memangnya bisa kalau solo karir ?
“Semua ada waktunya, akan saya kabari nanti “ jawab
saya pada mereka.
Sebagian dari mereka mungkin menganggap saya terlalu
sibuk naik gunung dan kegiatan alam bebas, atau bermain-main bersama orang-orang
luar seperti alien-alien atau makhluk luar lainnya. Ada juga yang menganggap
bahwa saya sudah menjadi alumni saking jarangnya saya muncul di kampus atau
sekedar ‘setor’ batang hidung yang kurang mancung ini.
Sebetulnya saya gak sibuk-sibuk amat. Bangun tidur
saya terbagi dua sesi. Sesi pertama, saya bangun pas waktu sholat shubuh. Kalau
di rumah itu wajib dilakukan, lengah sedikit bisa-bisa kena ‘semprot’ sama Mamah.
Sesi kedua, saya bangun yah sedikit agak pagi, sekitar jam sembilan hampir
mendekati sepuluh. Itu jadwal pasti kalau saya lagi ada di rumah. Kalau di
tempat kos bisa jadi sesi dua saja yang sering saya lakukan. Jadwal makan saya
tidak teratur, makan kalau ada makanan, atau minum kalau hanya ada minuman,
yang pasti hanya mandi supaya lebih kelihatan keren. Yang baru kenal saya
mungkin manganggap saya orang aneh, misterius, cara berpakaian seadanya atau
dengan brewok yang penuh filosofi. Apaan? Memang yang saya punya cuma ini, gak
ada yang lain.
Aduh rasanya saya mau garuk kepala. Akhir-akhir ini
semua jadi pertanyaan, gak datang ke kampus ditanya, datang ke kampus juga
ditanya, skripsi ditanya, belum lulus apalagi, urusan nikah dan pekerjaan tetap
juga tidak luput dari pertanyaan.
Yang jelas, saya memang belum lulus, saya masih
berkutat dengan skripsi yang lebih mirip dengan novel, atau sepertinya lebih
mirip cerpen. Skripsi, berdagang, mengajar privat, naik gunung, keluyuran dan
nongkrong adalah aktifitas saya yang menguras banyak waktu. Beginilah saya,
urusan skripsi dan keuangan selalu bentrok. Dan uang bisa jadi alasan utama
kenapa saya agak mengurangi jarak dengan skripsi.
Sudah dua tahun lebih saya mencari uang sendiri,
walaupun kadang ada uang jajan dari orangtua sebagai tambahan, tapi ya saya
sudah malu kalau dikasih uang sama orang tua. Bukan maksud sombong, tapi saya
ini sudah dewasa, jenggot dan brewok sudah memenuhi wajah saya, masa masih
numpang jajan juga.
Sebetulnya skripsi saya bisa diselesaikan dalam
waktu sebulan, tapi ya itulah, sudah ada hasil mikir sebulan, skripsinya gak
diketik juga, jadi ya gak selesai-selesai. Dan sekarang sudah berbulan-bulan,
saya sudah nunggak pada skripsi, semakin lama semakin malu untuk bertemu
apalagi menyentuhnya.
Sudah beribu-ribu mantra orang-orang ucapkan agar
saya cepat lulus kuliah. tapi ya pengaruhnya sebentar, paling satu atau dua
hari saja, ya kesananya hilang lagi efeknya. Entahlah, urusan lulus bagi saya
bukan yang utama. “Cepat wisuda, cepat lulus, cepat cari kerja” mantra-mantra
itu sudah saya ingat baik-baik walau akhirnya juga saya lupa. Ya, saya ini
orang yang pelupa, bahkan saya juga lupa sendiri kalo saya itu seorang pelupa.
Bagi saya, selembar ijazah hanya selembar kertas
biasa, tidak akan jadi syarat kalau-kalau saya nanti mendaftar ke KUA atau saat
membuat Kartu Keluarga. Saya kurang tertarik pada acara wisuda, wisudawan? saya
tidak tertarik dan bahkan sudah dari dulu saya betul-betul tidak tertarik, saya
lebih tertarik pada seorang wisudawati. Dia akan lebih menarik dan lebih
menggugah selera, apalagi kalau menemani mengerjakan skripsi, akan menjadi
semangat, pasti akan cepat kelar itu skripsi.
Setelah mengalami banyak tekanan, dorongan dan
hasil-hasil saya berkontemplasi akhirnya saya melanjutkan untuk kembali
berteman akrab dengan makhluk bernama skripsi. Entah mengapa, makhluk ini sulit
diajak kerjasama. Sudah sekuat tenaga dan pikiran saya curahkan untuk dia,
hanya untuk dia. Tapi tetap saja, saya menganggap bahwa skripsi saya ini sudah
cukup keren, penilaian Bapak dosen selalu berbeda. Dan saya telah lupa, bahwa
salah satu cara untuk melihat diri dan hasil pekerjaan sendiri adalah melalui
mata orang lain.
“Masa skripsi seperti ini, coba perbaiki EYD nya,
sudah sejak kecil kan belajar Bahasa Indonesia yang baik?” itulah yang
dikatakan bapak dosen sewaktu saya datang menyambung silaturahim melalui
kegiatan bimbingan. Wooowww, ternyata
skripsi saya kurang pantas disebut sebagai karya ilmiah yang baik, EYD masih
ancur dimana-mana. Saat itu saya hanya bisa menunduk, sambil sesekali melirik
dosen dengan gugup dan ingus yang ingin muncul malu-malu.
Tidak sampai disitu, saya terus mencoba memperbaiki
skripsi saya dan kembali melakukan bimbingan, walau akhirnya tetap sama
hasilnya, bahkan beberapa kali saya ganti judul skripsi saya semaunya. “Biar
cepat lulus” saya pikir begitu, walau belum waktunya juga.
Dari proses bimbingan skripsi dengan dosen, ternyata
saya gagal menjadi mahasisiswa yang baik. Saya kurang serius dalam
menyelesaikan kewajiban saya sebagai mahasiswa. Skripsi adalah karya tulis
ilmiah yang disusun dengan sistematika yang sudah ditentukan, lebih tepatnya
disepakati. Ya disepakati, semua aturan yang ada adalah hasil kesepakatan.
Undang-undang yang berlaku adalah hasil kesepakatan, aturan lalu lintas adalah
hasil kesepakatan, bahkan nama buah-buahan, nama peralatan dapur dan nama-nama hari
pun adalah hasil kesepakatan. Masalahnya, saya tidak hadir ketika mereka membuat
kesepakatan, ya mau tidak mau saya harus ikutan sepakat, daripada dilempar batu
sama banyak orang.
Skripsi adalah karya tulis ilmiah. Setiap karya
tulis ilmiah selalu dibuat karena ada masalah yang muncul karena harapan tidak
sesuai dengan kenyataan. Dan saya gagal menemukan masalah, saya gagal mencari
masalah. Saya memang ditakdirkan lahir untuk tidak menjadi orang yang
bermasalah, sudah sejak kecil saya diajarkan untuk tidak mencari-cari masalah,
makannya dalam persoalan skripsi saya kurang pandai menentukan masalahnya.
Saat ini, saya sudah masuk pada daftar mahasiswa
semester dua digit. Waktu normal saya sebagai mahasiswa sudah lewat, jadi
sekarang saya lebih pantas disebut sebagai mahasiswa kadaluarsa. Sesuatu yang
kadaluarsa itu tidak baik, bisa menjadi racun dan menyebabkan kematian. Apakah
saya bisa menyebabkan kematian, saya pikir jangan. Hanya Allah yang dapat
menghidupkan dan mematikan setiap makhluk.
“Maaf Mamah, saya terlambat, anakmu ini sudah banyak
mengecewakanmu, dan sampai saat ini belum juga sarjana” hanya itu yang bisa
saya ucapkan ketika saya sadar bahwa saya lalai menyelesaikan kuliah saya. Ya, kali
ini saya harus tetap fokus menyelesaikan kewajiban saya sebagai mahasiswa.
Walaupun saya terlalu telat menjadi sarjana, yang jelas saya harus segera
menghilangkan kekhawatiran orangtua terutama Mamah, saudara dan teman-teman
saya yang selalu memberi semangat lewat mantra dan doa untuk kesuksesan saya
meraih gelar sarjana.
Tidak masalah bagi saya telat menjadi sarjana dan
mendapat ijazah. Ya mau bagimana lagi, Nasir sudah menjadi tukang bubur, saya
tidak bisa mengulang waktu ke masa lalu
tanpa bantuan Doraemon. Seperti kata Mas Didik, guru yang belum pernah saya temui,
telatnya saya menjadi sarjana seperti masbuk saat menjalankan sholat berjamaah.
Seorang yang seperti saya telah ketinggalan dari seorang imam dan jamaah
lainnya, tidak bersama saat salam dan doa. Tapi walaupun begitu, saya tetap
yakin, sekalipun seorang yang masbuk telah tertinggal dari imam dan jamaah
lainnya, suatu saat dia berpotensi menjadi imam saat ada yang menepuk bahu
kanannya. Bukan begitu?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar