23 Desember 2014

Amplas Tukang Kayu

Siang itu saya sedang berada di sebuah toko untuk membeli rak buku. Barang-barang yang dijual di sana semuanya terbuat dari kayu, rotan dan bambu. Di samping toko, beberapa pengrajin sedang sibuk memproduksi beberapa barang seperti: lemari, meja, kursi dan perlengkapan lain, untuk selanjutnya dijual langsung di toko tersebut. Setelah melihat beberapa barang, pilihan saya jatuh pada sebuah rak kecil yang sangat unik.

Tiba-tiba turun hujan, saya terpaksa berteduh di sana. Sambil menunggu hujan reda, saya menghampiri seorang bapak yang sedang menghaluskan beberapa potongan kayu dengan selembar amplas. Ketika saya sedang melihat pekerjaan beliau, tiba-tiba pemilik toko datang sambil memarahi beberapa pengrajin karena hasil pekerjaannya kurang sesuai dengan pesanan pelanggan. 
“Bos nya galak ya Pak ?” tanya saya
“Tidak” jawabnya singkat
“Sering dimarahi ya Pak, kok betah kerja disini ?” tanya saya sedikit penasaran
Sambil tersenyum ramah beliau menjawab. “Bagi kami para pengrajin di sini, kemarahan bos adalah sebuah kritik agar kami bisa bekerja lebih sungguh-sungguh. Adek lihat amplas ini permukaannya kasar, tapi sangat berguna untuk mengaluskan kayu. Begitu pun kritik dari bos tadi, walupun terdengar kasar seperti amplas ini, tetapi tujuannya untuk mengoreksi cara kami bekerja.”

Jawaban beliau membuat pikiran saya menjadi terbuka. Tidak semua orang bisa dengan bijak menerima kritik, bahkan ada juga yang tidak suka dikritik oleh orang lain. Pengrajin itu mengajarkan bagaimana kita mengubah cara pandang pada sebuah kritik, kemudian mengubahnya menjadi sebuah kesempatan untuk melatih kesabaran dan memperbaiki diri. Sikap positif dalam menerima dan merespon kritik dengan positif bisa bermanfaat untuk membangun pribadi yang kuat. Walupun terkadang kurang enak didengar, sebuah kritik bisa menjadi alat koreksi untuk beberapa kesalahan yang kita lakukan. Sadar atau tidak disadari, kita terkadang lupa jika salah satu cara untuk melihat bagaimana diri kita adalah melalui mata orang lain. Dari pengalaman ini saya belajar bagaimana seharusnya kita menyikapi kritik dari orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...