Saat
itu saya sedang menikmati segelas kopi di tempat kos teman sambil bermain gitar
dan menyanyikan lagu-lagu yang setiap hari saya ulangi. Memang begitu, saya gak
update lagu-lagu terbaru, ya hapalnya
cuma segitu jadi diulang-ulang terus. Tapi ini lebih baik, soalnya hanya saya
diantara teman-teman lainnya yang lumayan mahir bermain alat musik, setidaknya
ada kelebihan masing-masing, saya main gitar, teman saya yang nyayi, walaupun
kadang suara gitar sama yang nyayi gak nyambung, kalau sudah pusing, pasti buka
internet dan cari ‘kunci’ gitar di google.
Tempat
kos teman saya ini berada di daerah Bandung Utara, Jl.dr. Setiabudhi dekat
kampus saya. Wilayahnya termasuk dataran tinggi dan lengkap dengan udara dingin
ketika malam tiba. Di sinilah saya sering numpang menginap dan alih-alih
menjadi seorang musafir yang kehabisan bekal dan tidak punya tempat untuk
tidur.
Setiap
sore hari menjelang maghrib, saya selalu mampir ke arah jalan raya atau
sekitaran kampus untuk melihat matahari terbenam. Cukup jelas memang melihat
matahari sore di daerah sini, tempatnya cukup tinggi. Urusan potret tidak akan
ketinggalan. Di handphone saya
bertebaran foto matahari sore, walaupun bentuknya tetap begitu, bulat, tapi ya
tetap menyenangkan bagi saya. Dengan siapa saya melihatnya? Ya jelas sendiri,
sama siapa lagi, kecuali ada sukarelawan yang sekedar ingin ikut menikmati hal
yang sama.
Akhir-akhir
ini banyak teman yang bertanya kenapa saya begitu kagum dan memfavoitkan waktu
sore hari terutama matahari terbenam. Saya menyebutnya senja, seperti
kebanyakan orang berkata sama. Saya juga kurang ingat sejak kapan saya menjadi
fans berat senja, padahal dia belum pernah merilis album atau menjadi pemeran
utama dalam film-film. Maaf saya tidak ingat, lebih tepatnya lupa. Yang penting
sekarang bagaimana saya menjawab pertanyaan teman-teman tentang alasan saya
menyukai senja.
Dalam
sebuah kesempatan, ketika saya duduk menunggu senja di atas atap rumah nenek
sambil ngopi sembari memainkan laptop, tiba-tiba jari saya bergerak menari-nari,
dia menuliskan sesuatu, dan menjawab semuanya.
Tampak langit tepi barat merona
jingga mewarnai sekitarnya. Saat jauh mata memandang warnanya memberi makna
pada hari yang dilewati. Dia mengingatkan pada banyak hal juga memberi ruang
pada jiwa dan raga untuk sekadar berdiskusi kecil. Tatapan ku padanya seolah
menjadi perasaan tiba-tiba untuk mencintai kisahnya yang selalu berbeda.
Dialah senja, yang hadir tak pernah
sama. Dia tak pernah berkisah sendiri, tapi berbagi pada setiap orang yang
menatapnya. Dia adalah penyambung doa-doa yang dititipkan manusia pada Sang
Pencipta saat lelah setelah berjuang di hari yang sama.
Senja selalu hadir dalam suguhan
jingga pada bola mata yang memandangnya. Dia selalu tersenyum pada mereka yang
merasa kalut juga raut muka yang bersedih. Dia selalu mengisi pada mereka yang
merasa kosong dan kehilangan sesuatu dalam hidupnya.
Kadangkala senja tertawa melihat
mereka yang menengadah ke atas tanpa mau melihat ke bawah. Dia selalu
mengingatkan pada mereka yang begitu kecil namun merasa besar dan mampu
menguasai segalanya. Dia menundukkan manusia yang sebenarnya rapuh dan menjadi
pengingat pada setiap batas diri.
Tetiba senja juga bisa bersedih,
kala awan hitam menghalangi sinarnya pada mereka yang menunggu kehadirannya. Namun dia akan kembali jika diijinkan datang
bersama pelangi ketika gelap belum menggantikannya.
Senja adalah teman bertukar cerita.
Dia adalah penawar setiap keinginan manusia pada hal-hal yang tak pernah jelas.
Dia adalah penyambung asa untuk nanti yang tak pernah pasti.Itulah senja, entah
kapan dan sampai kapan, keindahan melekat pada dia yang begitu syahdu.
Kurang
lebih begitu jawaban saya atas pertanyaan mereka. Saya juga kurang mengerti bagaimana
kondisi saya saat itu. Kemungkinannya hanya dua, dalam keadaan sadar atau dalam
pengaruh obat sariawan. Itu terlihat
puitis, keren dan romantis. Kalau dibaca wanita, bisa jadi dia ‘klepek-klepek’,
entah karena terpesona melihat tulisan saya atau malah jijik setelah
membacanya. Tulisan saya tentang senja adalah isi hati yang paling dalam,
sedalam-dalamnya yang paling dalam. Tapi ini untuk senja, bukan untuk kamu, iya
kamu yang membuat saya kesulitan untuk bertepuk tangan, maksudnya bertepuk
sebelah tangan kalau masih gak ngerti juga.
Bagi
saya senja menjadi hal yang terpatri, dan akan selalu di rindukan. Sebenarnya
saya tidak kagum pada senja saja, tapi masih banyak yang lain. Senja adalah salah
satu makhluk ciptaan-Nya, seperti halnya hujan, angin, lautan, gunung juga yang
lainnya. Dia hanya jelmaan matahari saat sore hari. Bisa saja saya menulis
tentang fajar, keindahan di puncak gunung atau yang lainnya. Masalahnya belum
ada yang bertanya tentang mereka, makanya belum saya tulis. Yang jelas, Allah
adalah penciptanya, kekaguman saya hanya tertuju pada Allah semata.
Dalam
pikiran saya, ciptaan Allah selalu ajaib dan tidak ada tandingannya. Kita
kadang terlena pada beberapa ciptaan manusia yang kita anggap canggih dan
modern. Saya pun begitu, setiap hari akan selalu tergantung pada handphone, motor, laptop atau televisi. Mulai bangun tidur sampai mau tidur
lagi, setiap hari akan begitu. Pengaruh dari beberapa ciptaan manusia telah
membuat kita terlena dan lupa pada ciptaan yang lebih baik. Alangkah mudahnya
bagi kita untuk melihat eksploitasi manusia dan menyebutnya keajaiban.
Sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan karuniakan kepada kita, kita
menyebutnya sebagai biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar