11 Desember 2014

Dialah Senja

Saat itu saya sedang menikmati segelas kopi di tempat kos teman sambil bermain gitar dan menyanyikan lagu-lagu yang setiap hari saya ulangi. Memang begitu, saya gak update lagu-lagu terbaru, ya hapalnya cuma segitu jadi diulang-ulang terus. Tapi ini lebih baik, soalnya hanya saya diantara teman-teman lainnya yang lumayan mahir bermain alat musik, setidaknya ada kelebihan masing-masing, saya main gitar, teman saya yang nyayi, walaupun kadang suara gitar sama yang nyayi gak nyambung, kalau sudah pusing, pasti buka internet dan cari ‘kunci’ gitar di google.

Tempat kos teman saya ini berada di daerah Bandung Utara, Jl.dr. Setiabudhi dekat kampus saya. Wilayahnya termasuk dataran tinggi dan lengkap dengan udara dingin ketika malam tiba. Di sinilah saya sering numpang menginap dan alih-alih menjadi seorang musafir yang kehabisan bekal dan tidak punya tempat untuk tidur.


Setiap sore hari menjelang maghrib, saya selalu mampir ke arah jalan raya atau sekitaran kampus untuk melihat matahari terbenam. Cukup jelas memang melihat matahari sore di daerah sini, tempatnya cukup tinggi. Urusan potret tidak akan ketinggalan. Di handphone saya bertebaran foto matahari sore, walaupun bentuknya tetap begitu, bulat, tapi ya tetap menyenangkan bagi saya. Dengan siapa saya melihatnya? Ya jelas sendiri, sama siapa lagi, kecuali ada sukarelawan yang sekedar ingin ikut menikmati hal yang sama.

Akhir-akhir ini banyak teman yang bertanya kenapa saya begitu kagum dan memfavoitkan waktu sore hari terutama matahari terbenam. Saya menyebutnya senja, seperti kebanyakan orang berkata sama. Saya juga kurang ingat sejak kapan saya menjadi fans berat senja, padahal dia belum pernah merilis album atau menjadi pemeran utama dalam film-film. Maaf saya tidak ingat, lebih tepatnya lupa. Yang penting sekarang bagaimana saya menjawab pertanyaan teman-teman tentang alasan saya menyukai senja.

Dalam sebuah kesempatan, ketika saya duduk menunggu senja di atas atap rumah nenek sambil ngopi sembari memainkan laptop, tiba-tiba jari saya bergerak menari-nari, dia menuliskan sesuatu, dan menjawab semuanya.

Tampak langit tepi barat merona jingga mewarnai sekitarnya. Saat jauh mata memandang warnanya memberi makna pada hari yang dilewati. Dia mengingatkan pada banyak hal juga memberi ruang pada jiwa dan raga untuk sekadar berdiskusi kecil. Tatapan ku padanya seolah menjadi perasaan tiba-tiba untuk mencintai kisahnya yang selalu berbeda.
Dialah senja, yang hadir tak pernah sama. Dia tak pernah berkisah sendiri, tapi berbagi pada setiap orang yang menatapnya. Dia adalah penyambung doa-doa yang dititipkan manusia pada Sang Pencipta saat lelah setelah berjuang di hari yang sama.
Senja selalu hadir dalam suguhan jingga pada bola mata yang memandangnya. Dia selalu tersenyum pada mereka yang merasa kalut juga raut muka yang bersedih. Dia selalu mengisi pada mereka yang merasa kosong dan kehilangan sesuatu dalam hidupnya.
Kadangkala senja tertawa melihat mereka yang menengadah ke atas tanpa mau melihat ke bawah. Dia selalu mengingatkan pada mereka yang begitu kecil namun merasa besar dan mampu menguasai segalanya. Dia menundukkan manusia yang sebenarnya rapuh dan menjadi pengingat pada setiap batas diri.
Tetiba senja juga bisa bersedih, kala awan hitam menghalangi sinarnya pada mereka yang menunggu kehadirannya.  Namun dia akan kembali jika diijinkan datang bersama pelangi ketika gelap belum menggantikannya.
Senja adalah teman bertukar cerita. Dia adalah penawar setiap keinginan manusia pada hal-hal yang tak pernah jelas. Dia adalah penyambung asa untuk nanti yang tak pernah pasti.Itulah senja, entah kapan dan sampai kapan, keindahan melekat pada dia yang begitu syahdu.

Kurang lebih begitu jawaban saya atas pertanyaan mereka. Saya juga kurang mengerti bagaimana kondisi saya saat itu. Kemungkinannya hanya dua, dalam keadaan sadar atau dalam pengaruh obat sariawan.  Itu terlihat puitis, keren dan romantis. Kalau dibaca wanita, bisa jadi dia ‘klepek-klepek’, entah karena terpesona melihat tulisan saya atau malah jijik setelah membacanya. Tulisan saya tentang senja adalah isi hati yang paling dalam, sedalam-dalamnya yang paling dalam. Tapi ini untuk senja, bukan untuk kamu, iya kamu yang membuat saya kesulitan untuk bertepuk tangan, maksudnya bertepuk sebelah tangan kalau masih gak ngerti juga.

Bagi saya senja menjadi hal yang terpatri, dan akan selalu di rindukan. Sebenarnya saya tidak kagum pada senja saja, tapi masih banyak yang lain. Senja adalah salah satu makhluk ciptaan-Nya, seperti halnya hujan, angin, lautan, gunung juga yang lainnya. Dia hanya jelmaan matahari saat sore hari. Bisa saja saya menulis tentang fajar, keindahan di puncak gunung atau yang lainnya. Masalahnya belum ada yang bertanya tentang mereka, makanya belum saya tulis. Yang jelas, Allah adalah penciptanya, kekaguman saya hanya tertuju pada Allah semata.

Dalam pikiran saya, ciptaan Allah selalu ajaib dan tidak ada tandingannya. Kita kadang terlena pada beberapa ciptaan manusia yang kita anggap canggih dan modern. Saya pun begitu, setiap hari akan selalu tergantung pada handphone, motor, laptop atau televisi. Mulai bangun tidur sampai mau tidur lagi, setiap hari akan begitu. Pengaruh dari beberapa ciptaan manusia telah membuat kita terlena dan lupa pada ciptaan yang lebih baik. Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat eksploitasi manusia dan menyebutnya keajaiban. Sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan karuniakan kepada kita, kita menyebutnya sebagai biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...