11 Desember 2014

Teori Tukang Cukur

Mungkin karena kadang-kadang bergaul dengan orang yang berusia lebih tua, sebagian teman menganggap bahwa saya sudah seperti mereka. Lah, kok begitu? Usia mereka kan gak beda jauh. Jangan-jangan kalau saya sering berkunjung ke panti jompo, nantinya dianggap kakek-kakek premature. Ngobrol dengan veteran, nanti dianggap teman seperjuangan. Atau supaya semuanya jelas, nanti akan saya lampirkan curriculum vitae disertai fotokopi akte kelahiran.

Sebagai manusia yang ingin dianggap dalam perkembangan yang normal, maka saya terpaksa harus menyesuaikan tingkah laku dengan usia yang terus bertambah setiap tahun. Dalam persoalan usia, begitu beruntungnya saya karena seluruh manusia telah menyepakati bahwa satuan untuk menyebutkan usia adalah hitungan tahun. Pernah saya bertanya-tanya kenapa usia tidak dihitung menurut hitungan jam, menit atau detik. Padahal semuanya juga menunjukkan waktu, dan setiap bertambahnya waktu otomatis usia seseorang juga bertambah.


“ Berapa usia kamu sekarang ? “
“  630.720.013 detik “
“ Kalau kamu berapa ? “
“ 16.460 jam, 12 menit, 40 detik “
“ Oh, kita cuma beda beberapa menit.
Ada juga yang mengatakan bahwa satuan usia adalah umur jagung. Kalau masalah ini saya kurang paham karena belum pernah menanam jagung. Yang jelas dengan bertambahnya usia, maka terjadi proses perkembangan tingkah laku pada diri seseorang. Dalam setiap perkembangan, manusia akan dikelompokan menjadi tiga golongan yaitu : anak-anak, remaja dan dewasa. Sederhananya, seseorang yang disebut anak-anak biasanya berusia maksimal sampai tamat sekolah dasar. Yang disebut dengan remaja biasanya anak-anak yang mulai masuk ke jenjang SMP sampai SMA. Kalau menurut teori orangtua dulu, biasanya awal remaja untuk laki-laki ditandai dengan berubahnya suara jadi agak nge-bass karena tumbuhnya jakun, dan kalau wanita sudah mulai tumbuh payudara.

Setelah tamat SMA, biasanya seseorang mulai dikatakan dewasa, atau setidaknya ketika sudah punya KTP. Dewasa itu adalah peralihan dari masa remaja. Peralihan dari ketergantungan menuju mandiri, kebebasan menentukan diri juga pandangan masa depan yang lebih realistis. Sekarang ini saya sudah tamat SMA dan masih kuliah semester dua digit karena masih belum lulus juga. Artinya saya adalah seseorang yang sudah ‘menginjak’ usia dewasa. Kalau Anda setuju dengan teori jalanan saya tadi, silahkan lanjutkan membaca. Tapi kalau tidak setuju, saya masih beri kesempatan untuk terus membaca tulisan ini sampai selesai. Namanya juga teori jalanan, maaf kalau jauh dari kata ilmiah.

Sebagai seorang mahasiswa pada program studi pendidikan, saya pernah mempelajari tentang proses perkembangan manusia sejak lahir sampai dewasa. Boleh jadi teori jalanan saya tadi agak mirip dengan teori-teori di dunia psikologi. Ya setidaknya gak jauh beda lah.

Beberapa hasil penelitian para ahli yang menerangkan teori-teori perkembangan manusia seperti yang saya pelajari saat kuliah memang masih banyak perbedaan. Menurut Prof. A perkembangan manusia dibagi menjadi bla bla bla bla. Menurut Prof. B perbedaan anak-anak, remaja dan dewasa adalah bla bla bla bla. Belum lagi dengan pendapat Prof. C dan para ahli lainnya. Entah teori siapa yang paling benar, saya juga bingung.

Tapi semua kebingungan saya atas perbedaan dan kerumitan teori itu telah terjawab setelah munculnya teori modern dari Persatuan Tukang Cukur Rambut Lelaki Indonesia (PERTUKURAMKINESIA). Di mata tukang cukur rambut, manusia hanya dibedakan dalam dua golongan, yaitu: anak-anak dan dewasa. Seluruh ciri-ciri yang membedakan keduanya telah dipampang secara sederhana dan ringkas di dinding tempat cukur rambut.

Menurut teori tukang cukur, anak-anak adalah seseorang yang harus membayar jasa cukur rambut sebesar Rp 8.000 (mungkin dulu lebih murah), sedangkan dewasa adalah seseorang yang diharuskan membayar jasa cukur rambut sebesar Rp. 10.000 (ada kenaikan tarif) ditambah Rp 3.000 kalau mau cukur jenggot dan kumis.
“Berapa bang ? “
“ sepuluh ribu “
“Oh berarti saya sudah dewasa. Ini bang uangnya”
“Makasih dek, mudah-mudahan rambutnya cepet gondrong”
Saya yakin betul, sekalipun ada ahli ilmu psikologi yang paling mahir (terutama yang laki-laki), maka dia akan menjadi pengikut madzhab tukang cukur saat mereka memotong rambutnya. Kalau saja saya dan sebagian besar kaum lelaki juga mengikuti teori tukang cukur, itu berarti kami kaum lelaki sudah dewasa sejak masih SMP.

“Wahai kaum wanita di segala penjuru. Janganlah engkau berani mengatakan kepada teman, pacar atau calon suamimu bahwa mereka belum dewasa. Karena kami (kaum lelaki) telah memulai masa dewasa sejak membayar tarif maksimal kepada tukang cukur itu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...