Mungkin karena kadang-kadang bergaul dengan orang
yang berusia lebih tua, sebagian teman menganggap bahwa saya sudah seperti
mereka. Lah, kok begitu? Usia mereka
kan gak beda jauh. Jangan-jangan kalau saya sering berkunjung ke panti jompo,
nantinya dianggap kakek-kakek premature.
Ngobrol dengan veteran, nanti dianggap teman seperjuangan. Atau supaya semuanya
jelas, nanti akan saya lampirkan curriculum
vitae disertai fotokopi akte kelahiran.
Sebagai manusia yang ingin dianggap dalam
perkembangan yang normal, maka saya terpaksa harus menyesuaikan tingkah laku
dengan usia yang terus bertambah setiap tahun. Dalam persoalan usia, begitu
beruntungnya saya karena seluruh manusia telah menyepakati bahwa satuan untuk
menyebutkan usia adalah hitungan tahun. Pernah saya bertanya-tanya kenapa usia
tidak dihitung menurut hitungan jam, menit atau detik. Padahal semuanya juga
menunjukkan waktu, dan setiap bertambahnya waktu otomatis usia seseorang juga
bertambah.
“ Berapa usia kamu sekarang ? “
“ 630.720.013 detik “
“ Kalau kamu berapa ? “
“ 16.460 jam, 12 menit, 40 detik “
“ Oh, kita cuma beda beberapa menit. “
Ada juga yang mengatakan bahwa satuan usia adalah
umur jagung. Kalau masalah ini saya kurang paham karena belum pernah menanam
jagung. Yang jelas dengan bertambahnya usia, maka terjadi proses perkembangan
tingkah laku pada diri seseorang. Dalam setiap perkembangan, manusia akan
dikelompokan menjadi tiga golongan yaitu : anak-anak, remaja dan dewasa. Sederhananya,
seseorang yang disebut anak-anak biasanya berusia maksimal sampai tamat sekolah
dasar. Yang disebut dengan remaja biasanya anak-anak yang mulai masuk ke
jenjang SMP sampai SMA. Kalau menurut teori orangtua dulu, biasanya awal remaja
untuk laki-laki ditandai dengan berubahnya suara jadi agak nge-bass karena tumbuhnya jakun, dan kalau
wanita sudah mulai tumbuh payudara.
Setelah tamat SMA, biasanya seseorang mulai dikatakan
dewasa, atau setidaknya ketika sudah punya KTP. Dewasa itu adalah peralihan
dari masa remaja. Peralihan dari ketergantungan menuju mandiri, kebebasan
menentukan diri juga pandangan masa depan yang lebih realistis. Sekarang ini
saya sudah tamat SMA dan masih kuliah semester dua digit karena masih belum
lulus juga. Artinya saya adalah seseorang yang sudah ‘menginjak’ usia dewasa. Kalau
Anda setuju dengan teori jalanan saya tadi, silahkan lanjutkan membaca. Tapi
kalau tidak setuju, saya masih beri kesempatan untuk terus membaca tulisan ini
sampai selesai. Namanya juga teori jalanan, maaf kalau jauh dari kata ilmiah.
Sebagai seorang mahasiswa pada program studi
pendidikan, saya pernah mempelajari tentang proses perkembangan manusia sejak
lahir sampai dewasa. Boleh jadi teori jalanan saya tadi agak mirip dengan
teori-teori di dunia psikologi. Ya setidaknya gak jauh beda lah.
Beberapa hasil penelitian para ahli yang menerangkan
teori-teori perkembangan manusia seperti yang saya pelajari saat kuliah memang
masih banyak perbedaan. Menurut Prof. A perkembangan manusia dibagi menjadi bla
bla bla bla. Menurut Prof. B perbedaan anak-anak, remaja dan dewasa adalah bla
bla bla bla. Belum lagi dengan pendapat Prof. C dan para ahli lainnya. Entah teori
siapa yang paling benar, saya juga bingung.
Tapi semua kebingungan saya atas perbedaan dan
kerumitan teori itu telah terjawab setelah munculnya teori modern dari Persatuan
Tukang Cukur Rambut Lelaki Indonesia (PERTUKURAMKINESIA). Di mata tukang cukur
rambut, manusia hanya dibedakan dalam dua golongan, yaitu: anak-anak dan
dewasa. Seluruh ciri-ciri yang membedakan keduanya telah dipampang secara
sederhana dan ringkas di dinding tempat cukur rambut.
Menurut teori tukang cukur, anak-anak adalah
seseorang yang harus membayar jasa cukur rambut sebesar Rp 8.000 (mungkin dulu
lebih murah), sedangkan dewasa adalah seseorang yang diharuskan membayar jasa
cukur rambut sebesar Rp. 10.000 (ada kenaikan tarif) ditambah Rp 3.000 kalau
mau cukur jenggot dan kumis.
“Berapa bang ? “
“ sepuluh ribu “
“Oh berarti saya sudah dewasa. Ini bang uangnya”
“Makasih dek, mudah-mudahan rambutnya cepet gondrong”
Saya yakin betul, sekalipun ada ahli ilmu psikologi
yang paling mahir (terutama yang laki-laki), maka dia akan menjadi pengikut madzhab
tukang cukur saat mereka memotong rambutnya. Kalau saja saya dan sebagian besar
kaum lelaki juga mengikuti teori tukang cukur, itu berarti kami kaum lelaki
sudah dewasa sejak masih SMP.
“Wahai kaum
wanita di segala penjuru. Janganlah engkau berani mengatakan kepada teman, pacar
atau calon suamimu bahwa mereka belum dewasa. Karena kami (kaum lelaki) telah
memulai masa dewasa sejak membayar tarif maksimal kepada tukang cukur itu.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar