11 Desember 2014

Memadamkan Api

Salah satu gerobak bertuliskan Nasi Goreng telah memaksa saya untuk berhenti dan memarkirkan motor tepat disebelahnya. Sebetulnya saya sedang mencari makan malam karena perut sudah sangat lapar. Hari ini saya belum makan nasi, baru sekedar ngemil dengan lontong, gorengan dan mie instan. Saya makan ketika lapar saja, kalau haus saya cukup minum, dan akan tidur kalau saya sudah mengantuk. Sebuah kebiasaan yang pada tempatnya, sebagai manusia saya menikmati itu.

Malam itu hujan gerimis, semuanya menjadi basah. Belum lagi udara yang cukup dingin, khas daerah Setiabudi, masih sekitaran kampus. Di tempat itu pembelinya hanya saya, belum ada yang lain. Penjualnya memakai kaos bertuliskan ‘The Beatles’. Saya yakin dia hanya fans, tidak mungkin personel dari band itu.
Setelah saya memesan makanan, saya duduk di kursi dengan meja berhias sendok, garpu, kerupuk, tisu dan setoples acar. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya sepiring nasi goreng telah tiba di atas meja. Aromanya tercium begitu menggoda. Dengan manja
saya menikmatinya, sedikit demi sedikit.

Nyalira wae kang?”                       
                                          

Tiba-tiba terdengar pertanyaan tertuju pada saya dan memaksa untuk menengok ke arahnya. Ternyata itu Melati (nama samaran), adik tingkat saya di kampus. Cukup akrab kami di kampus. Dia satu organisasi dengan saya. Dia hanya teman biasa, pesonanya tidak cukup kuat untuk mengalihkan dunia saya atau membuatnya menjadi spesial. Kepercayaan diri saya sedikit berlebihan.

Eh, enya nyalira” jawab saya sambil mengunyah nasi goreng yang masih belum berhasil saya telan seluruhnya. Entah mengapa pertemuan itu terjadi secara tiba-tiba. Jangan-jangan ada koneksi antara saya dengan dia. Ah bukan, ini hanya pengaruh sinetron yang tadi saya tonton.

Dia duduk tepat di depan saya. Sesekali kami mengobrol mulai dari masalah kuliah, organisasi dan pertanyaannya seputar hobi saya bermain di alam bebas. Hobi saya memang begitu. Sudah sejak lama saya gemar bermain di alam bebas. Suasana alam selalu saya terjemahkan sebagai keheningan yang menenangkan, itu yang paling saya sukai. Disanalah tempat saya berkontemplasi atau sekedar mengobati kejenuhan dari kesibukan, keramaian, macet atau polusi-polusi di kota.

Dalam obrolan, jari-jarinya sibuk memainkan handphone android miliknya itu. Sepertinya dia sedang berbalas pesan dengan seseorang. Bahkan, kesibukannya itu tidak dia hentikan walaupun sedang menikmati sepiring nasi goreng miliknya. Sampai saya selesai makan, Melati masih sibuk juga dengan handphone nya. Saya masih duduk di depannya, belum bisa bangkit karena ‘kamerkaan’,  semacam gangguan di perut akibat terlalu banyaknya makanan yang masuk.

Pembicaraan kami mulai menukik, setelah saya sedikit berkomentar karena ke-multitasking-an dia, makan sambil bermain HP. Sambil menyelam minum air, atau sekali mendayung dua tiga pulau terlewati. Dia tersenyum, dan memberitahu bahwa sedang berbalas pesan dengan pacarnya. Saya jadi teringat lagu Evi Tamala, kalau selalu teringat saat waktu makan, tidur atau waktu apapun juga. Sayangnya lagu itu sedang tidak berlaku bagi saya sekarang ini. Kenapa alasannya, sudah pasti semua mengerti.

”Cowok mah jahat ya, egois, mau menang sendiri !”

Tiba-tiba Melati berkata begitu. Saya perkirakan sepertinya dia memulai perkataannya tadi pada kunci F#m, nadanya sedikit tinggi tapi terdengar melow. Satu hal yang penting, perkataan Melati tadi telah menguatkan saya untuk tidak perlu menyukai kaum laki-laki karena sifatnya yang jahat dan egois. Tapi sebagai bagian dari spesies laki-laki, saya juga agak bingung, karena tidak semua anggota spesies kami seperti itu.

Setelah sedikit berada pada obrolan yang tajam, saya simpulkan bahwa saat ini komunikasi Melati dengan sang pacar sedang tidak baik. Dalam bahasa keren, ini disebut ‘marahan’.  Keduanya saling keukeuh dengan pendapatnya masing-masing, tidak ada yang mengalah.

Menurut saya, suasana hatinya sedang kurang bagus. Begitupun juga dengan pacarnya, rasa-rasanya akan sama begitu. Dalam kondisi sedang marah, penilaian seseorang tentang orang lain akan berubah menjadi buruk, terutama kepada orang yang membuatnya begitu. Kesalahan sedikit akan jadi terlihat besar, hal-hal baik akan dilupakan.

Saya sedikit sekali berbicara dan lebih banyak mendengar ceritanya. Pepatah orang tua yang saya amalkan. Masalahnya bukan itu, saya takut salah kalo harus berkomentar. Salah-salah bisa terkena lemparan piring atau target garpu yang melayang.

Kalau harus diibaratkan, emosi dan kemarahan itu seperti api. Api itu panas, kita telah menyepakati itu sejak lama. Sebuah api tidak akan tiba-tiba muncul begitu saja, pasti ada hal yang membuatnya menyala. Nyala api selalu dimulai dari percikan yang kecil sampai ada bahan bakar dan udara yang cukup hingga membuatnya menjadi besar. Dan jika tidak diperlukan, api itu harus dipadamkan supaya tidak membahayakan.

Sudah kita ketahui sejak dahulu, bahwa yang bisa memadamkan api hanya air dan pasir, yang lainnya saya kurang tahu. Saat dalam kemarahan, seseorang sedang menyimpan api, bisa saja api itu disemburkan pada siapa saja yang dia inginkan. Intinya, saat kita ‘diberi’ api oleh orang lain, sebaiknya tidak dibalas dengan api lagi, karena api kemungkinan akan semakin membesar. Perlu ada seseorang yang dengan ikhlasnya membawa air untuk memadamkan api itu. Ingat ! Tidak ada api yang padam dengan api. Kuncinya adalah sabar, karena innallaha ma’asshabiriin, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Sedikit sulit tapi perlu dilatih.

Hari ini saya mendapat pengalaman yang baru. Sebuah ilmu tentang cara memadamkan api. Tapi pengalaman ini tidak merubah cita-cita saya, karena menjadi pemadam kebaran kurang saya minati. Sampai akhirnya saya dan Melati berpisah dan kembali ke kandang masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...