Salah satu gerobak bertuliskan Nasi Goreng telah memaksa
saya untuk berhenti dan memarkirkan motor tepat disebelahnya. Sebetulnya saya
sedang mencari makan malam karena perut sudah sangat lapar. Hari ini saya belum
makan nasi, baru sekedar ngemil dengan lontong, gorengan dan mie instan. Saya
makan ketika lapar saja, kalau haus saya cukup minum, dan akan tidur kalau saya
sudah mengantuk. Sebuah kebiasaan yang pada tempatnya, sebagai manusia saya
menikmati itu.
Malam itu hujan gerimis, semuanya menjadi basah.
Belum lagi udara yang cukup dingin, khas daerah Setiabudi, masih sekitaran
kampus. Di tempat itu pembelinya hanya saya, belum ada yang lain. Penjualnya
memakai kaos bertuliskan ‘The Beatles’. Saya yakin dia hanya fans, tidak
mungkin personel dari band itu.
Setelah saya memesan makanan, saya duduk di kursi
dengan meja berhias sendok, garpu, kerupuk, tisu dan setoples acar. Setelah
menunggu beberapa saat, akhirnya sepiring nasi goreng telah tiba di atas meja.
Aromanya tercium begitu menggoda. Dengan manja
saya menikmatinya, sedikit demi
sedikit.
“Nyalira wae
kang?”
Tiba-tiba terdengar pertanyaan tertuju pada saya dan
memaksa untuk menengok ke arahnya. Ternyata itu Melati (nama samaran), adik
tingkat saya di kampus. Cukup akrab kami di kampus. Dia satu organisasi dengan
saya. Dia hanya teman biasa, pesonanya tidak cukup kuat untuk mengalihkan dunia
saya atau membuatnya menjadi spesial. Kepercayaan diri saya sedikit berlebihan.
“Eh, enya
nyalira” jawab saya sambil mengunyah nasi goreng yang masih belum berhasil
saya telan seluruhnya. Entah mengapa pertemuan itu terjadi secara tiba-tiba.
Jangan-jangan ada koneksi antara saya dengan dia. Ah bukan, ini hanya pengaruh
sinetron yang tadi saya tonton.
Dia duduk tepat di depan saya. Sesekali kami mengobrol
mulai dari masalah kuliah, organisasi dan pertanyaannya seputar hobi saya
bermain di alam bebas. Hobi saya memang begitu. Sudah sejak lama saya gemar
bermain di alam bebas. Suasana alam selalu saya terjemahkan sebagai keheningan
yang menenangkan, itu yang paling saya sukai. Disanalah tempat saya
berkontemplasi atau sekedar mengobati kejenuhan dari kesibukan, keramaian,
macet atau polusi-polusi di kota.
Dalam obrolan, jari-jarinya sibuk memainkan handphone android miliknya itu. Sepertinya
dia sedang berbalas pesan dengan seseorang. Bahkan, kesibukannya itu tidak dia
hentikan walaupun sedang menikmati sepiring nasi goreng miliknya. Sampai saya selesai
makan, Melati masih sibuk juga dengan handphone
nya. Saya masih duduk di depannya, belum bisa bangkit karena ‘kamerkaan’, semacam gangguan di perut akibat terlalu
banyaknya makanan yang masuk.
Pembicaraan kami mulai menukik, setelah saya sedikit
berkomentar karena ke-multitasking-an
dia, makan sambil bermain HP. Sambil menyelam minum air, atau sekali mendayung
dua tiga pulau terlewati. Dia tersenyum, dan memberitahu bahwa sedang berbalas
pesan dengan pacarnya. Saya jadi teringat lagu Evi Tamala, kalau selalu
teringat saat waktu makan, tidur atau waktu apapun juga. Sayangnya lagu itu
sedang tidak berlaku bagi saya sekarang ini. Kenapa alasannya, sudah pasti
semua mengerti.
”Cowok mah
jahat ya, egois, mau menang sendiri !”
Tiba-tiba Melati berkata begitu. Saya perkirakan
sepertinya dia memulai perkataannya tadi pada kunci F#m, nadanya sedikit tinggi
tapi terdengar melow. Satu hal yang penting, perkataan Melati tadi telah
menguatkan saya untuk tidak perlu menyukai kaum laki-laki karena sifatnya yang
jahat dan egois. Tapi sebagai bagian dari spesies laki-laki, saya juga agak
bingung, karena tidak semua anggota spesies kami seperti itu.
Setelah sedikit berada pada obrolan yang tajam, saya
simpulkan bahwa saat ini komunikasi Melati dengan sang pacar sedang tidak baik.
Dalam bahasa keren, ini disebut ‘marahan’. Keduanya saling keukeuh dengan pendapatnya masing-masing, tidak ada yang mengalah.
Menurut saya, suasana hatinya sedang kurang bagus.
Begitupun juga dengan pacarnya, rasa-rasanya akan sama begitu. Dalam kondisi sedang
marah, penilaian seseorang tentang orang lain akan berubah menjadi buruk,
terutama kepada orang yang membuatnya begitu. Kesalahan sedikit akan jadi
terlihat besar, hal-hal baik akan dilupakan.
Saya sedikit sekali berbicara dan lebih banyak
mendengar ceritanya. Pepatah orang tua yang saya amalkan. Masalahnya bukan itu,
saya takut salah kalo harus berkomentar. Salah-salah bisa terkena lemparan
piring atau target garpu yang melayang.
Kalau harus diibaratkan, emosi dan kemarahan itu
seperti api. Api itu panas, kita telah menyepakati itu sejak lama. Sebuah api
tidak akan tiba-tiba muncul begitu saja, pasti ada hal yang membuatnya menyala.
Nyala api selalu dimulai dari percikan yang kecil sampai ada bahan bakar dan udara
yang cukup hingga membuatnya menjadi besar. Dan jika tidak diperlukan, api itu
harus dipadamkan supaya tidak membahayakan.
Sudah kita ketahui sejak dahulu, bahwa yang bisa
memadamkan api hanya air dan pasir, yang lainnya saya kurang tahu. Saat dalam
kemarahan, seseorang sedang menyimpan api, bisa saja api itu disemburkan pada
siapa saja yang dia inginkan. Intinya, saat kita ‘diberi’ api oleh orang lain,
sebaiknya tidak dibalas dengan api lagi, karena api kemungkinan akan semakin
membesar. Perlu ada seseorang yang dengan ikhlasnya membawa air untuk
memadamkan api itu. Ingat ! Tidak ada api yang padam dengan api. Kuncinya
adalah sabar, karena innallaha
ma’asshabiriin, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Sedikit
sulit tapi perlu dilatih.
Hari ini saya mendapat pengalaman yang baru. Sebuah
ilmu tentang cara memadamkan api. Tapi pengalaman ini tidak merubah cita-cita
saya, karena menjadi pemadam kebaran kurang saya minati. Sampai akhirnya saya
dan Melati berpisah dan kembali ke kandang masing-masing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar