
Saya mulai panik ketika mesin itu ‘menelan’ kartu
ATM saya tanpa mau ‘memuntahkannya’ lagi. Padahal transaksinya sudah selesai,
tapi kartunya gak mau keluar lagi. Heran, jangan-jangan foto saya merusak
sensor mesin. Masalahnya, kartu ATM itu juga saya pakai kalau-kalau saya sedang
rajin ke perpustakaan kampus untuk sekedar pinjam buku. Atau kalau ada yang
nanya status saya sebagai mahasiswa aktif di kampus, itu bisa jadi bukti. Walaupun
jarang dipakai, tapi sangat penting. Kalau saya paksa dengan sedikit nekad,
nanti takut disangka komplotan pembobol ATM.
“Pak kartu ATM saya gak bisa keluar lagi”
“Paling nunggu yang ngisi uang ke mesinnya, nanti bisa diambil”
“Jam berapa kira-kira?”
“Kalau uangnya sudah habis, biasanya 3 hari lagi”
Pembicaraan saya dengan seorang satpam di bank itu
tidak menghentikan kepanikan saya atas kejadian tadi.
Segeralah saya masuk untuk melapor ke customer service, sekalian minta solusi supaya tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk nantinya. Urusan perbankan memang agak merepotkan buat saya, makanya saya lebih suka menyimpan uang di koperasi dari pada di bank. Kapan-kapan akan saya ceritakan kenapa saya senang dengan koperasi.
Segeralah saya masuk untuk melapor ke customer service, sekalian minta solusi supaya tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk nantinya. Urusan perbankan memang agak merepotkan buat saya, makanya saya lebih suka menyimpan uang di koperasi dari pada di bank. Kapan-kapan akan saya ceritakan kenapa saya senang dengan koperasi.
Sambil menunggu antrian, saya duduk di bangku yang
cukup nyaman. Udaranya juga sejuk, pasti pakai AC. Beda dengan di luar, cuaca
memaksa saya melakukan adegan ‘panas’ karena matahari sedang bersemangat
membakar bumi.
“Masih kuliah dek?”
“Iya masih pak” Tanya seorang bapak berdasi
“Mau jadi orang sukses? Mau berubah?”
“Iya jelas mau pak”
“Ini ambil, kalau sudah yakin nanti hubungi saya”
Saya ambil sebuah kartu nama yang diberikan bapak
tadi. Namanya Harry, beliau seorang eksekutif manajer di salah satu perusahaan
asuransi ternama di Indonesia. Dalam pikiran saya beruntung sekali bertemu seorang
manajer perusahaan asuransi ternama. Tapi pikiran saya tiba-tiba mengajak
bernegosiasi. Kenapa bapak tadi tidak memberitahu jelas kenapa saya harus
menghubunginya. Kenapa tidak sekalian saja saya diberitahu maksud beliau tadi. Ah,
prasangka saya sedikit negatif.
Dikarenakan saya terlalu sibuk dengan urusan kartu
ATM yang masih belum keluar juga, sampai sampai saya lupa tentang pesan bapak
tadi. Maklum, saya itu pelupa, dan sekarang sudah hampir dua bulan,
jangan-jangan beliau juga sudah lupa dengan saya. Saya baru ingat setelah
melihat kartu asuransi kecelakaan yang menempel di STNK motor. Sebagai seorang
‘aktor’ di jalan raya, saya memang terdaftar dalam sebuah asuransi kecelakaan
dari sebuah perusahaan.
Biasanya setiap pengendara kendaraan bermotor (khususnya
pemilik kendaraan pribadi) akan menerima kartu asuransi. Tapi sejujurnya saya
belum pernah mendaftar, ini asuransi yang wajib. Setiap membayar pajak
kendaraan pasti dipaksa membayar sumbangan wajib untuk asuransi kecelakaan. Ini
peraturannya, kalau gak mau bayar saya bisa dimarahi petugas. Biar semuanya
cepat ‘kelar’ dan gak ribet, saya ikuti saja aturan yang berlaku.
Setahu saya, asuransi adalah perjanjian antara pihak
yang dijamin dengan pihak yang menjamin. Kesepakatan keduanya mengandung
unsur`’jaga-jaga’ kalau saja nanti terjadi hal-hal yang perlu ditanggung, misalnya
asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi pendidikan, dll. Premi yang
dibayar berkala itu diinvestasikan supaya jadi keuntungan perusahaan penyedia
asuransi. Jaminan jadi keuntungan untuk pihak yang ditanggung. Kurang lebih
begitu sederhananya. Walaupun saya bukan pegawai perusahaan asuransi, setidanya
saya pernah belajar tentang itu.
Sebagai pemilik sekaligus pengguna kendaraan atas
nama pribadi, karenanya saya dan orang-orang yang sama dijamin dalam asuransi
kecelakaan. Untuk soal ini, tentunya saya gak mau juga kalau harus mengalami
kecelakaan lalu lintas. Walaupun dijamin ya jelas tetep rugi, rasanya pasti
tetap sakit kalo celaka. Begitu juga perusahaan asuransi, pastinya gak mau kalau
terlalu banyak yang celaka. Nantinya mereka akan banyak menanggung jaminan,
bisa-bisa rugi.
Kalau sudah begini, saya suka tiba-tiba jadi pintar
mengkhayal. Jangan-jangan supaya gak rugi, perusahaan asuransi akan punya
kesibukan baru. Mereka akan rajin berdoa. Berdoa supaya para klien tidak banyak
yang celaka. Berdoa supaya semuanya tetap sehat. Berdoa supaya dihindarkan dari
musibah. Berdoa supaya semuanya diberi keselamatan. Maka beruntunglah mereka
yang di-asuransi-kan, karena telah menerima doa-doa yang baik, supaya terhindar
dari celaka, dipanjangkan umur dan diberi kebaikan. Kalaulah adalah asuransi untuk
menjamin skripsi skripsi, saya pasti daftar. Supaya banyak didoakan segera
beres dan cepat lulus. Ahay !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar