11 Desember 2014

Doa-Doa Asuransi


Saya mulai panik ketika mesin itu ‘menelan’ kartu ATM saya tanpa mau ‘memuntahkannya’ lagi. Padahal transaksinya sudah selesai, tapi kartunya gak mau keluar lagi. Heran, jangan-jangan foto saya merusak sensor mesin. Masalahnya, kartu ATM itu juga saya pakai kalau-kalau saya sedang rajin ke perpustakaan kampus untuk sekedar pinjam buku. Atau kalau ada yang nanya status saya sebagai mahasiswa aktif di kampus, itu bisa jadi bukti. Walaupun jarang dipakai, tapi sangat penting. Kalau saya paksa dengan sedikit nekad, nanti takut disangka komplotan pembobol ATM.
“Pak kartu ATM saya gak bisa keluar lagi”
“Paling nunggu yang ngisi uang ke mesinnya, nanti bisa diambil”
“Jam berapa kira-kira?”
“Kalau uangnya sudah habis, biasanya 3 hari lagi”
Pembicaraan saya dengan seorang satpam di bank itu tidak menghentikan kepanikan saya atas kejadian tadi.



Segeralah saya masuk untuk melapor ke customer service, sekalian minta solusi supaya tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk nantinya. Urusan perbankan memang agak merepotkan buat saya, makanya saya lebih suka menyimpan uang di koperasi dari pada di bank. Kapan-kapan akan saya ceritakan kenapa saya senang dengan koperasi.

Sambil menunggu antrian, saya duduk di bangku yang cukup nyaman. Udaranya juga sejuk, pasti pakai AC. Beda dengan di luar, cuaca memaksa saya melakukan adegan ‘panas’ karena matahari sedang bersemangat membakar bumi.
“Masih kuliah dek?”
“Iya masih pak” Tanya seorang bapak berdasi
“Mau jadi orang sukses? Mau berubah?”
“Iya jelas mau pak”
“Ini ambil, kalau sudah yakin nanti hubungi saya”
Saya ambil sebuah kartu nama yang diberikan bapak tadi. Namanya Harry, beliau seorang eksekutif manajer di salah satu perusahaan asuransi ternama di Indonesia. Dalam pikiran saya beruntung sekali bertemu seorang manajer perusahaan asuransi ternama. Tapi pikiran saya tiba-tiba mengajak bernegosiasi. Kenapa bapak tadi tidak memberitahu jelas kenapa saya harus menghubunginya. Kenapa tidak sekalian saja saya diberitahu maksud beliau tadi. Ah, prasangka saya sedikit negatif.

Dikarenakan saya terlalu sibuk dengan urusan kartu ATM yang masih belum keluar juga, sampai sampai saya lupa tentang pesan bapak tadi. Maklum, saya itu pelupa, dan sekarang sudah hampir dua bulan, jangan-jangan beliau juga sudah lupa dengan saya. Saya baru ingat setelah melihat kartu asuransi kecelakaan yang menempel di STNK motor. Sebagai seorang ‘aktor’ di jalan raya, saya memang terdaftar dalam sebuah asuransi kecelakaan dari sebuah perusahaan.

Biasanya setiap pengendara kendaraan bermotor (khususnya pemilik kendaraan pribadi) akan menerima kartu asuransi. Tapi sejujurnya saya belum pernah mendaftar, ini asuransi yang wajib. Setiap membayar pajak kendaraan pasti dipaksa membayar sumbangan wajib untuk asuransi kecelakaan. Ini peraturannya, kalau gak mau bayar saya bisa dimarahi petugas. Biar semuanya cepat ‘kelar’ dan gak ribet, saya ikuti saja aturan yang berlaku.

Setahu saya, asuransi adalah perjanjian antara pihak yang dijamin dengan pihak yang menjamin. Kesepakatan keduanya mengandung unsur`’jaga-jaga’ kalau saja nanti terjadi hal-hal yang perlu ditanggung, misalnya asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi pendidikan, dll. Premi yang dibayar berkala itu diinvestasikan supaya jadi keuntungan perusahaan penyedia asuransi. Jaminan jadi keuntungan untuk pihak yang ditanggung. Kurang lebih begitu sederhananya. Walaupun saya bukan pegawai perusahaan asuransi, setidanya saya pernah belajar tentang itu.

Sebagai pemilik sekaligus pengguna kendaraan atas nama pribadi, karenanya saya dan orang-orang yang sama dijamin dalam asuransi kecelakaan. Untuk soal ini, tentunya saya gak mau juga kalau harus mengalami kecelakaan lalu lintas. Walaupun dijamin ya jelas tetep rugi, rasanya pasti tetap sakit kalo celaka. Begitu juga perusahaan asuransi, pastinya gak mau kalau terlalu banyak yang celaka. Nantinya mereka akan banyak menanggung jaminan, bisa-bisa rugi.

Kalau sudah begini, saya suka tiba-tiba jadi pintar mengkhayal. Jangan-jangan supaya gak rugi, perusahaan asuransi akan punya kesibukan baru. Mereka akan rajin berdoa. Berdoa supaya para klien tidak banyak yang celaka. Berdoa supaya semuanya tetap sehat. Berdoa supaya dihindarkan dari musibah. Berdoa supaya semuanya diberi keselamatan. Maka beruntunglah mereka yang di-asuransi-kan, karena telah menerima doa-doa yang baik, supaya terhindar dari celaka, dipanjangkan umur dan diberi kebaikan. Kalaulah adalah asuransi untuk menjamin skripsi skripsi, saya pasti daftar. Supaya banyak didoakan segera beres dan cepat lulus. Ahay !


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...