10 Juni 2014

Menyikapi Pesta Demokrasi

Indonesia adalah negara demokrasi dimana kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat. Pelaksanaan demokrasi yang ada di Indonesia salah satunya adalah melalui pemilihan umum baik pemilihan legislatif maupun pemilihan eksekutif. Pemilihan umum merupakan sebuah momentum dimana (seharusnya) seluruh rakyat Indonesia turut andil dalam menentukan siapa yang pantas menjadi pemimpin dan mampu ketika memimpin.
9 Juli 2014 mendatang  rakyat Indonesia kembali dihadapkan pada pemilihan Presiden baru yang akan memimpin negara selama lima tahun kedepan. Banyak opini bertebaran di berbagai media
turut mengkampanyekan kubu Capres-Cawapres terdaftar Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK. Macam-macam berita rekam jejak Capres-Cawapres mulai dari berita positif sampai berita paling negatif mewarnai hari-hari mejelang Pemilihan Umum 2014. Tidak jarang opini dan dukungan pribadi tokoh-tokoh terkemuka pun dijadikan senjata ampuh dalam mencari dukungan rakyat di Pemilu tahun ini. Sayangnya, saat ini justru banyak berita dan opini yang membuat rakyat kebingungan, sehingga banyak diantara mereka yang memilih ‘golput’ karena takut salah pilih atau bahkan tidak percaya pada kedua kubu Capres-Cawapres.
Memilih dan dipilih adalah hak setiap warga negara. Semua orang berhak menentukan pilihan sesuai dengan keinginan dan pertimbangan pribadi bukan karena intruksi dari atasan ataupun lembaga tertentu. Pilihan harus datang dari hati bukan datang dari penilaian materi. Untuk menghargai proses demokrasi yang jujur, maka semuanya harus diserahkan pada rakyat yang memilih dengan berbagai pertimbangannya masing-masing.
Menyikapi proses menjelang Pemilu kali ini seharusnya kita sebagai rakyat Indonesia tidak melupakan nilai-nilai dasar yang tertuang dalam Pancasila. Saling menghargai keberagaman pendapat adalah kunci keberhasilan proses demokrasi, bukan malah saling mencaci karena mendukung pada salah satu kubu. Seolah-olah menjadi juru kampanye kita mengabaikan nilai persatuan, tidak menghormati perbedaan sehingga membuat perpecahan hanya karena beda pilihan.
Harapan kita sejatinya adalah terpilihnya pemimpin yang pantas dan mampu mengurusi negara selama lima tahun kedepan. Banyak diantara kita yang terlalu bernafsu mengkampanyekan kubu pilihannya dan tidak jarang memunculkan perpecahan antar individu maupun antar kelompok.  Sadar atau tidak disadari sikap seperti ini sangat disayangkan dan dinilai terlalu percuma. Bayangkan dan coba kita renungkan, jika kita mempunyai Presiden yang paling hebat sekalipun, apakah negara ini akan menjadi baik tanpa ada perubahan perilaku dari rakyatnya sendiri ?. Jika kita analogikan, tidak mungkin sebuah bangunan hanya kokoh pada atapnya saja, justru yang harus kokoh adalah landasannya. Landasan yang kokoh akan menjadi penopang yang kuat sehingga proses pembangunan akan selalu dimulai dari bawah, bukan dari atas.
Untuk membangun sebuah negara dan menjunjung tinggi demokrasi, maka yang harus mulai dikokohkan adalah rakyat sebagai landasannya. Perubahan perilaku rakyat kearah yang lebih baik sangatlah penting untuk membangun Indonesia yang kokoh. Sangatlah tidak mungkin jika kita hanya berharap hanya pada seorang pemimpin yang kita anggap mampu tanpa ikut serta melakukan perubahan diri dan lingkungan sekitar. Lebih pentingnya kita turut serta menjaga persatuan dan kesatuan serta menjauhkan hal-hal yang bisa memicu perpecahan.
Kita seharusnya bersikap bijak dalam menghadapi proses Pemilu sebagai wujud demokrasi di negeri ini. Suara-suara dukungan dalam mengkampanyekan kubu Capres-Cawapres jangan sampai menjadi alasan yang memicu perpecahan. Membangun negeri yang kokoh tidaklah mudah dan tidak bisa di urus dengan ala kadarnya. Indonesia indah dengan gugusan pulau-pulaunya, keberagaman suku bangsa dan bahasanya,  sumberdaya alam juga hal lainnya, maka akan lebih indah jika seluruh rakyatnya menjunjung tinggi nilai-persatuan, turut andil dalam proses pembangunan, serta ikut serta menjaga kedaulatan.
Ingat, memilih hanya hak, jangan sampai kita melupakan kewajiban-kewajiban sebagai warga negara. Bukan orang lain yang menentukan suara kita, apalagi diperbudak oleh prasangka dari berbagia media. Dengan menunjung tinggi nilai demokrasi dimana kedaulatan ada di tangan rakyat, diharapkan kita bisa menjadi bangsa yang berdiri kokoh di atas kaki kita sendiri, menjadi bangsa yang kuat, menjadi bangsa yang sejahtera dan di hormati dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...