23 Desember 2014

Amplas Tukang Kayu

Siang itu saya sedang berada di sebuah toko untuk membeli rak buku. Barang-barang yang dijual di sana semuanya terbuat dari kayu, rotan dan bambu. Di samping toko, beberapa pengrajin sedang sibuk memproduksi beberapa barang seperti: lemari, meja, kursi dan perlengkapan lain, untuk selanjutnya dijual langsung di toko tersebut. Setelah melihat beberapa barang, pilihan saya jatuh pada sebuah rak kecil yang sangat unik.

Tiba-tiba turun hujan, saya terpaksa berteduh di sana. Sambil menunggu hujan reda, saya menghampiri seorang bapak yang sedang menghaluskan beberapa potongan kayu dengan selembar amplas. Ketika saya sedang melihat pekerjaan beliau, tiba-tiba pemilik toko datang sambil memarahi beberapa pengrajin karena hasil pekerjaannya kurang sesuai dengan pesanan pelanggan. 
“Bos nya galak ya Pak ?” tanya saya

11 Desember 2014

Dialah Senja

Saat itu saya sedang menikmati segelas kopi di tempat kos teman sambil bermain gitar dan menyanyikan lagu-lagu yang setiap hari saya ulangi. Memang begitu, saya gak update lagu-lagu terbaru, ya hapalnya cuma segitu jadi diulang-ulang terus. Tapi ini lebih baik, soalnya hanya saya diantara teman-teman lainnya yang lumayan mahir bermain alat musik, setidaknya ada kelebihan masing-masing, saya main gitar, teman saya yang nyayi, walaupun kadang suara gitar sama yang nyayi gak nyambung, kalau sudah pusing, pasti buka internet dan cari ‘kunci’ gitar di google.

Tempat kos teman saya ini berada di daerah Bandung Utara, Jl.dr. Setiabudhi dekat kampus saya. Wilayahnya termasuk dataran tinggi dan lengkap dengan udara dingin ketika malam tiba. Di sinilah saya sering numpang menginap dan alih-alih menjadi seorang musafir yang kehabisan bekal dan tidak punya tempat untuk tidur.

Doa-Doa Asuransi


Saya mulai panik ketika mesin itu ‘menelan’ kartu ATM saya tanpa mau ‘memuntahkannya’ lagi. Padahal transaksinya sudah selesai, tapi kartunya gak mau keluar lagi. Heran, jangan-jangan foto saya merusak sensor mesin. Masalahnya, kartu ATM itu juga saya pakai kalau-kalau saya sedang rajin ke perpustakaan kampus untuk sekedar pinjam buku. Atau kalau ada yang nanya status saya sebagai mahasiswa aktif di kampus, itu bisa jadi bukti. Walaupun jarang dipakai, tapi sangat penting. Kalau saya paksa dengan sedikit nekad, nanti takut disangka komplotan pembobol ATM.
“Pak kartu ATM saya gak bisa keluar lagi”
“Paling nunggu yang ngisi uang ke mesinnya, nanti bisa diambil”
“Jam berapa kira-kira?”
“Kalau uangnya sudah habis, biasanya 3 hari lagi”
Pembicaraan saya dengan seorang satpam di bank itu tidak menghentikan kepanikan saya atas kejadian tadi.



Teori Tukang Cukur

Mungkin karena kadang-kadang bergaul dengan orang yang berusia lebih tua, sebagian teman menganggap bahwa saya sudah seperti mereka. Lah, kok begitu? Usia mereka kan gak beda jauh. Jangan-jangan kalau saya sering berkunjung ke panti jompo, nantinya dianggap kakek-kakek premature. Ngobrol dengan veteran, nanti dianggap teman seperjuangan. Atau supaya semuanya jelas, nanti akan saya lampirkan curriculum vitae disertai fotokopi akte kelahiran.

Sebagai manusia yang ingin dianggap dalam perkembangan yang normal, maka saya terpaksa harus menyesuaikan tingkah laku dengan usia yang terus bertambah setiap tahun. Dalam persoalan usia, begitu beruntungnya saya karena seluruh manusia telah menyepakati bahwa satuan untuk menyebutkan usia adalah hitungan tahun. Pernah saya bertanya-tanya kenapa usia tidak dihitung menurut hitungan jam, menit atau detik. Padahal semuanya juga menunjukkan waktu, dan setiap bertambahnya waktu otomatis usia seseorang juga bertambah.

Memadamkan Api

Salah satu gerobak bertuliskan Nasi Goreng telah memaksa saya untuk berhenti dan memarkirkan motor tepat disebelahnya. Sebetulnya saya sedang mencari makan malam karena perut sudah sangat lapar. Hari ini saya belum makan nasi, baru sekedar ngemil dengan lontong, gorengan dan mie instan. Saya makan ketika lapar saja, kalau haus saya cukup minum, dan akan tidur kalau saya sudah mengantuk. Sebuah kebiasaan yang pada tempatnya, sebagai manusia saya menikmati itu.

Malam itu hujan gerimis, semuanya menjadi basah. Belum lagi udara yang cukup dingin, khas daerah Setiabudi, masih sekitaran kampus. Di tempat itu pembelinya hanya saya, belum ada yang lain. Penjualnya memakai kaos bertuliskan ‘The Beatles’. Saya yakin dia hanya fans, tidak mungkin personel dari band itu.
Setelah saya memesan makanan, saya duduk di kursi dengan meja berhias sendok, garpu, kerupuk, tisu dan setoples acar. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya sepiring nasi goreng telah tiba di atas meja. Aromanya tercium begitu menggoda. Dengan manja

Masih Ada Kesempatan

Sudah lama sekali saya tidak berkunjung ke kampus. Bukan karena saya terlalu banyak kesibukan, tapi karena belum punya bekal untuk menengok kampus juga bertemu Bapak dosen tercinta. Skripsi ! Itulah yang menjadi bekal saya, yang sampai saat ini belum juga saya selesaikan. Beberapa teman mulai bertanya tentang skripsi saya, jadwal ujian sidang, gelombang wisuda, bahkan hal-hal yang belum sempat terpikirkan seperti meminang wanita idaman. Lah, pacar saja tidak punya, mana bisa saya menikah, memangnya bisa kalau  solo karir ?

“Semua ada waktunya, akan saya kabari nanti “ jawab saya pada mereka.

Sebagian dari mereka mungkin menganggap saya terlalu sibuk naik gunung dan kegiatan alam bebas, atau bermain-main bersama orang-orang luar seperti alien-alien atau makhluk luar lainnya. Ada juga yang menganggap bahwa saya sudah menjadi alumni saking jarangnya saya muncul di kampus atau sekedar ‘setor’ batang hidung yang kurang mancung ini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...