3 Januari 2015

Petualangan Panjang

Matahari begitu terik, menyengat begitu kuat. Kulit ini terasa perih, seperti terbakar api yang panas. Sesekali aku menepi untuk sekedar membasahi tenggorokan yang sudah mulai mengering. Kusandarkan tubuhku pada batang pohon di tepi jalan. Sempat terbayang untuk kembali turun, tapi tekadku tak sampai di situ.
Jalan setapak kecil menjadi santapan mataku yang mulai layu. Tubuh ini basah diselimuti keringat yang terus bercucuran. Angin mulai mengencang, udara menjadi dingin. Nafas sesekali menjadi sesak, mungkin oksigen sudah mulai menipis di ketinggian. Ranselku masih mengait di pundak, kaki ini masih ingin berjalan. Batu-batu terjal menjadi pijakan, akar-akar yang kokoh menjadi pegangan.
Dalam beberapa kesempatan, kadang kala aku memilih memutar jalan. Lebih terjal dan lebih beresiko. Entah bagaimana pilihan itu datang secara tiba-tiba.

Ngumpul Yuk !

Walaupun angin begitu kencang, tak menghalangi saya untuk pergi keluar rumah malam ini untuk sekedar berkumpul dengan teman-teman dari komunitas penggiat alam bebas. Sudah cukup lama memang saya bergabung dengan komuitas itu. Sesuai kesepakatan, kami akan berkumpul sambil bersantap kopi ‘ceria’ di sebuah angkringan dekat kampus ITB.

Sepertinya saya terlambat. Setelah tiba di lokasi, nampaknya sudah banyak yang berkumpul disana. Saya salami mereka satu persatu ditambah dengan senyuman termanis yang pernah saya miliki. Kedatangan saya disambut oleh gelak tawa mereka yang entah sedang ngobrol masalah apa. Saya baru datang, jadi kurang ngerti. Setelah mulai beradaptasi, saya mulai bisa mengerti kalau obrolan mereka adalah tentang pemberian nama pada anak mereka kalau sudah menikah nanti. Karena keseringan berpetualang di alam bebas terutama pegunungan, jadinya nama-nama anak yang mereka sebut tidak jauh dari hobi kami sendiri. Misalnya saja Asep Burangrang, dari nama gunung di Bandung. Putera Mahameru, dari sebuah puncak tertinggi di Pulau Jawa. Atau Rengganis, sebuah puncak di Gunung Argopuro.
“Ngaran budak maneh saha, Yan?“ tanya seorang teman

Jangan-jangan ?


Karena hujan belum juga reda, jadi saya gak kemana-mana. Padahal sudah akhir tahun, diluar sana pasti banyak kejutan. Mau setuju atau tidak, biasanya akhir tahun adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu bagi sebagian orang. Banyak hal menarik, dari mulai liburan panjang, persiapan menyambut tahun baru atau toko-toko yang ngasih diskon cukup lumayan karena gudangnya mau dicuci.

Setiap akhir tahun juga, biasanya orang-orang sibuk menyiapkan resolusi untuk tahun mendatang. Berbagai hal disusun sedemikian rupa sebagai evaluasi di tahun ini. Sederhananya sih menyusun cita-cita dan harapan tahun depan. Yang bagusnya bisa dilanjutkan, yang kurangnya diperbaiki, yang jeleknya ya ditinggalkan.

Iseng-iseng saya nyalakan televisi untuk sekedar cari hiburan. Bulak-balik putar chanel hasilnya rata-rata sama, semua tayangan memberitakan tentang bencana alam di Indonesia. Mulai dari banjir, longsor, erupsi gunung dan angin puting beliung. Timbul rasa prihatin, ditengah kesenangan sebagian orang, sebagiannya lagi harus berjuang menghadapi bencana.
“Kok tiap tahun sering terjadi bencana ya, apa cuma kebetulan?”
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...