Setelah melihat tayangan kejuaraan renang, saya tiba-tiba
menghayal menjadi seorang perenang yang hebat. Kalau saya jago berenang kan
bisa jadi atlet. Masalahnya saya tidak pandai berenang, lebih tepatnya amatir. Padahal
dulu saya itu perenang unggul. waktu masih berbentuk sperma, saya ikut
kejuaraan renang, semuanya berlomba membuahi ovum. Siapa yang paling cepat
dialah yang kemungkinan besar akan dilahirkan. Konon katanya begitu, tapi saya
sudah sangat lupa kejadian itu.
Kalau dengar kata renang, pikiran saya biasanya
langsung tertuju pada ‘air’. Jelas, karena tempat renang yang paling wajar
adalah di air. Kalau di api namanya bunuh diri atau debus. Kalau di angin
namanya terbang. Kalau di tanah namanya kotor-kotoran. Kurang lebih begitu,
kebanyakan ngelantur.
Sering saya pergi diajak teman untuk berenang,
terutama di kampus supaya murah. Begitu beruntungnya saya karena kampus
mempunyai fasilitas kolam renang. Walaupun saya jarang menikmatinya, setidaknya
ada kebanggan.
Dari sejak saya masih lucu sampai sekarang lucu ‘banget’,
saya tidak pandai berenang. Mungkin karena setiap kali saya renang terlalu
banyak diam di kolam anak-anak atau kolam dangkal. Soalnya saya masih takut
‘kelelep’, nanti kan bahaya. Urusan renang memang sedikit ribet bagi saya. Tapi
bukan berarti saya takut dengan air, hanya takut tenggelam, apalagi tenggelam
di dalam hatinya. Tidak seperti teman saya yang pernah mengaku takut air
sewaktu diajak berenang. Kemungkinannya, dia sedang berbohong. Karena tidak
mungkin sehari-hari dia mandi pake tayamum, atau minum pake pasir.
Walaupun saya tidak pandai berenang. Saya selalu mau
kalau diajak berenang. Itu pun kalau ada waktu. Saya kan sibuk, urusan tidur
dan isi bensin menguras banyak waktu. Kalau melihat teman-teman saya sewaktu
berenang, rasa-rasanya saya pantas untuk berkata ‘jago’. Mau gaya apapun pasti
bisa. Gaya katak, gaya bebas, gaya kupu-kupu, semuanya bisa. Kadang-kadang saya
juga pengen bisa.
Sebetulnya saya pernah belajar cara-cara berenang.
Kalau teorinya saya ngerti, tapi prakteknya susah amat. Saya tahu gimana cara
melakukan renang gaya katak. Saya juga tahu gimana cara renang gaya bebas. Tapi
kalau sudah ‘nyemplung’ di kolam semuanya lupa. Niatnya mau gaya katak atau
gaya bebas. Yang ada malah kelihatan seperti gaya katak kena pergaulan bebas.
Jadi ya kurang enak dilihat.
Salah satu jenis gaya yang sampai sekarang masih
jadi perbincangan dalam pikiran saya adalah gaya kupu-kupu. Tidak seperti gaya
lainnya, penamaan gaya inilah yang menurut saya paling aneh. Karena saya yakin
betul kalau sejak jaman Nabi Adam sampai jaman sekarang, kupu-kupu gak bisa
renang. Kalau katak sudah jelas bisa berenang. Anjing juga begitu, saya pernah
lihat cara mereka berenang. Kenapa tidak coba diganti dengan nama lain,
misalnya gaya ikan pari yang mirip dengan kupu-kupu dan sudah pasti bisa
renang. Wong mereka itu jenis ikan,
kalau gak bisa renang ya kebangetan.
Saya juga belum tahu pasti sejak kapan ikan-ikan
belajar berenang. Manusia sewaktu bayi sudah pasti akan belajar cara berjalan. Mulai
dari merangkak, belajar berdiri, sampai akhirnya bisa berjalan. Burung juga
begitu, kalau baru lahir biasanya belajar terbang supaya mereka diakui sebagai
spesies burung. Nah, kalau ikan saya belum tahu kapan mereka belajar berenang.
Yang jelas begitu mereka lahir, tiba-tiba bisa bereng. Belum pernah saya lihat
ada bayi ikan yang jatuh di air karena sedang belajar berenang. Entahlah, ini
hanya pikiran saya yang sedang melayang, jangan terlalu dipikirkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar