4 April 2012

Persoalan Renang

Setelah melihat tayangan kejuaraan renang, saya tiba-tiba menghayal menjadi seorang perenang yang hebat. Kalau saya jago berenang kan bisa jadi atlet. Masalahnya saya tidak pandai berenang, lebih tepatnya amatir. Padahal dulu saya itu perenang unggul. waktu masih berbentuk sperma, saya ikut kejuaraan renang, semuanya berlomba membuahi ovum. Siapa yang paling cepat dialah yang kemungkinan besar akan dilahirkan. Konon katanya begitu, tapi saya sudah sangat lupa kejadian itu.

Kalau dengar kata renang, pikiran saya biasanya langsung tertuju pada ‘air’. Jelas, karena tempat renang yang paling wajar adalah di air. Kalau di api namanya bunuh diri atau debus. Kalau di angin namanya terbang. Kalau di tanah namanya kotor-kotoran. Kurang lebih begitu, kebanyakan ngelantur.

Sering saya pergi diajak teman untuk berenang, terutama di kampus supaya murah. Begitu beruntungnya saya karena kampus mempunyai fasilitas kolam renang. Walaupun saya jarang menikmatinya, setidaknya ada kebanggan.

Dari sejak saya masih lucu sampai sekarang lucu ‘banget’, saya tidak pandai berenang. Mungkin karena setiap kali saya renang terlalu banyak diam di kolam anak-anak atau kolam dangkal. Soalnya saya masih takut ‘kelelep’, nanti kan bahaya. Urusan renang memang sedikit ribet bagi saya. Tapi bukan berarti saya takut dengan air, hanya takut tenggelam, apalagi tenggelam di dalam hatinya. Tidak seperti teman saya yang pernah mengaku takut air sewaktu diajak berenang. Kemungkinannya, dia sedang berbohong. Karena tidak mungkin sehari-hari dia mandi pake tayamum, atau minum pake pasir.

Walaupun saya tidak pandai berenang. Saya selalu mau kalau diajak berenang. Itu pun kalau ada waktu. Saya kan sibuk, urusan tidur dan isi bensin menguras banyak waktu. Kalau melihat teman-teman saya sewaktu berenang, rasa-rasanya saya pantas untuk berkata ‘jago’. Mau gaya apapun pasti bisa. Gaya katak, gaya bebas, gaya kupu-kupu, semuanya bisa. Kadang-kadang saya juga pengen bisa.

Sebetulnya saya pernah belajar cara-cara berenang. Kalau teorinya saya ngerti, tapi prakteknya susah amat. Saya tahu gimana cara melakukan renang gaya katak. Saya juga tahu gimana cara renang gaya bebas. Tapi kalau sudah ‘nyemplung’ di kolam semuanya lupa. Niatnya mau gaya katak atau gaya bebas. Yang ada malah kelihatan seperti gaya katak kena pergaulan bebas. Jadi ya kurang enak dilihat.

Salah satu jenis gaya yang sampai sekarang masih jadi perbincangan dalam pikiran saya adalah gaya kupu-kupu. Tidak seperti gaya lainnya, penamaan gaya inilah yang menurut saya paling aneh. Karena saya yakin betul kalau sejak jaman Nabi Adam sampai jaman sekarang, kupu-kupu gak bisa renang. Kalau katak sudah jelas bisa berenang. Anjing juga begitu, saya pernah lihat cara mereka berenang. Kenapa tidak coba diganti dengan nama lain, misalnya gaya ikan pari yang mirip dengan kupu-kupu dan sudah pasti bisa renang. Wong mereka itu jenis ikan, kalau gak bisa renang ya kebangetan.

Saya juga belum tahu pasti sejak kapan ikan-ikan belajar berenang. Manusia sewaktu bayi sudah pasti akan belajar cara berjalan. Mulai dari merangkak, belajar berdiri, sampai akhirnya bisa berjalan. Burung juga begitu, kalau baru lahir biasanya belajar terbang supaya mereka diakui sebagai spesies burung. Nah, kalau ikan saya belum tahu kapan mereka belajar berenang. Yang jelas begitu mereka lahir, tiba-tiba bisa bereng. Belum pernah saya lihat ada bayi ikan yang jatuh di air karena sedang belajar berenang. Entahlah, ini hanya pikiran saya yang sedang melayang, jangan terlalu dipikirkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...