4 April 2012

Aktifis atau Hyperaktif ?


Mahasiswa disebut-sebut sebagai agen perubahan, pun sebagai penyambung lidah rakyat, memperjuangkan kesejahteraaan rakyat, menjadi bagian penting dalam perubahan bangsa yang carut-marut, dan bahkan menjadi harapan bagi kehidupan bangsa.

Bagi para mahasiswa idealisme adalah sesuatu yang telah tumbuh dan mengakar, terutama bagi mereka yang menyebut dirinya sebagai aktifis. Sebutan aktifis sebetulnya sangat identik dengan kegiatan demonstrasi.  Kalau masih ingat tragedi ’98, mereka yang pernah mengalami peristiwa itu menyebut dirinya sebagai aktifis ’98. Kegiatannya waktu itu ya demonstrasi, menyuarakan reformasi dan menurunkan Presiden Soeharto. Zaman sekarang, kebanyakan mahasiswa tidak memilih jalan sebagai aktifis. Tugas-tugas kuliah sekarang sudah menumpuk, jumlah kontrak SKS semakin banyak, belum lagi urusan nongkrong yang tidak mau ketinggalan.

Bagi aktifis, demonstrasi dan aksi masa adalah hal yang penting. Apalagi ketika suara rakyat tidak didengar oleh pemerintah. Ketika masalah tidak bisa diselesaikan dengan obrolan biasa, pasti pilihan terakhirnya adalah turun ke jalan. Ngapain? Mau gerak jalan? Atau pawai obor? Bukan, tapi demonstrasi. Demonstrasi atau aksi massa memang penting, sebagai bentuk dari kontrol sosial yang dilakukan mahasiswa, itu pun jika dilakukan dengan benar dan tidak di luar jalur.

Permasalahannya sekarang, kalau saya melihat berita-berita di televisi, demonstrasi mahasiswa selalu berujung pada kegiatan anarkis, merusak juga merugikan. Sehingga yang terjadi bukan aksi yang membawa solusi, tapi malah menjadi aksi tak terkendali. Walaupun tidak semua mahasiswa begitu, tapi sesuatu yang buruk menjadi hal yang paling diingat daripada banyaknya kebaikan yang dilakukan. Masyarakat akan menilai kalau mahasiswa adalah kaum terpelajar perusak dan anarkis. Sebagai seorang mahasiswa yang sudah kadaluarsa, saya juga merasa terganggu dengan stigma-stigma dari masyarakat. Mahasiswa sudah dipandang sebelah mata, seperti cara pandang Jaja Miharja saat membawakan acara Kuis Dang-Dut semasa saya kecil dulu.

Kalau begini caranya, julukan aktifis sudah kurang cocok lagi disematkan pada mahasiswa yang berjuang dengan cara yang salah. Hyperaktif sepertinya adalah julukan yang paling pantas menggantikan kata aktifis. Soalnya seorang aktifis akan paham peran dan tugasnya.
Bagi para aktifis, melakukan aksi dan pergerakan akan berawal dari kepedulian terhadap keadaan lingkungan sekitar. Menjadi aktivis perlu visi dan misi serta patuh terhadap visi dam misinya itu.
Seorang hyperaktif tidak fokus terhadap apa yang dikerjakan, tak mempunyai visi, mudah terpengaruh dan tak punya visi. Mereka melakukan pergerakan tanpa tujuan yang jelas serta tak peduli pada lingkungan. Kerjaaannya selalu jauh dari target. Perilaku si hiperaktif bersifat destruktif atau merusak, bentuk pengrusakan fasilitas adalah bentuk ketidak jelasan visi.

Sekarang ini pilihan saya tidak jatuh pada dua-duanya. Saya memilih menjadi rakyat biasa yang masih berstatus mahasiswa. Kewajiban saya masih belum selesai. Jika saja ada aktifis yang ingin membantu memperjuangkan penderitaan saya ini, saya terima dengan tangan terbuka. Yang penting tidak anarki, bisa-bisa saya di ketok magic sama bapak dosen.

Bagi saya, menjadi agent of change merupakan tugas yang berat. Jangankan merubah kondisi bangsa, menyelesaikan skripsi dan merubah nama biasa menjadi bergelar sarjana saja belum bisa saya lakukan sampai sekarang. Kalau harus merubah bangsa, saya belum sanggup. Tapi bukan berarti saya tidak cinta pada negara. Setidaknya saya masih hafal kalau harus menyanyikan lagu Indonesia Raya atau urutan sila dalam Pancasila.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...