4 April 2012

Aktifis atau Hyperaktif ?


Mahasiswa disebut-sebut sebagai agen perubahan, pun sebagai penyambung lidah rakyat, memperjuangkan kesejahteraaan rakyat, menjadi bagian penting dalam perubahan bangsa yang carut-marut, dan bahkan menjadi harapan bagi kehidupan bangsa.

Bagi para mahasiswa idealisme adalah sesuatu yang telah tumbuh dan mengakar, terutama bagi mereka yang menyebut dirinya sebagai aktifis. Sebutan aktifis sebetulnya sangat identik dengan kegiatan demonstrasi.  Kalau masih ingat tragedi ’98, mereka yang pernah mengalami peristiwa itu menyebut dirinya sebagai aktifis ’98. Kegiatannya waktu itu ya demonstrasi, menyuarakan reformasi dan menurunkan Presiden Soeharto. Zaman sekarang, kebanyakan mahasiswa tidak memilih jalan sebagai aktifis. Tugas-tugas kuliah sekarang sudah menumpuk, jumlah kontrak SKS semakin banyak, belum lagi urusan nongkrong yang tidak mau ketinggalan.

Persoalan Renang

Setelah melihat tayangan kejuaraan renang, saya tiba-tiba menghayal menjadi seorang perenang yang hebat. Kalau saya jago berenang kan bisa jadi atlet. Masalahnya saya tidak pandai berenang, lebih tepatnya amatir. Padahal dulu saya itu perenang unggul. waktu masih berbentuk sperma, saya ikut kejuaraan renang, semuanya berlomba membuahi ovum. Siapa yang paling cepat dialah yang kemungkinan besar akan dilahirkan. Konon katanya begitu, tapi saya sudah sangat lupa kejadian itu.

Kalau dengar kata renang, pikiran saya biasanya langsung tertuju pada ‘air’. Jelas, karena tempat renang yang paling wajar adalah di air. Kalau di api namanya bunuh diri atau debus. Kalau di angin namanya terbang. Kalau di tanah namanya kotor-kotoran. Kurang lebih begitu, kebanyakan ngelantur.

Sering saya pergi diajak teman untuk berenang, terutama di kampus supaya murah. Begitu beruntungnya saya karena kampus mempunyai fasilitas kolam renang. Walaupun saya jarang menikmatinya, setidaknya ada kebanggan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...