22 April 2011

Sosok 'Kartini' Yang Hilang

     21 April, hari istimewa untuk kaum hawa. Ya, adalah hari perayaan untuk perjuangan Ibu Kartini, seorang pahlawan perjuangan perempuan Indonesia, beliau berjuang agar ada penghormatan kepada perempuan, emansipasi wanita, dan sebagai bentuk simbol persamaan gender antara laki-laki dan perempuan.
      Banyak sih cara memaknai hari Kartini, tapi apa sudah benar? 
Sebelumnya mari kita lihat sejarah sejenak. Kartini adalah orang yang kaya bahkan lahir dari golongan bangsawan. Tapi dia adalah sosok yang rendah hati dan mempunyai semangat tinggi. Semangat belajar yang dimiliki oleh orang-orang yang merasa kurang. Namun,
Kartini itu telah hilang. Saat ini, orang kaya atau orang tuanya kaya raya pasti lebih memilih malas-malasan dirumah dari pada belajar dan mengais ilmu. Beda dengan rakyat yang serba pas-pasan. Kalangan bawah ini pasti akan semangat dalam mencari ilmu karena akan mempengaruhi masa depan mereka nantinya.
      Kartini adalah sosok yang piawai dan cantik parasnya. Jika kita pernah membaca buku Panggil Aku Kartini Saja, karya Pramoedya Ananta Toer.  Siapa saja yang tak lahir di masanya pasti beranggapan akan kecantikannya. Bukan masalah fisik, tentunya cantik dalam budi pekerti. Kartini sangat santun dalam bertutur kata.

      Ketika kita menginjak tanggal sakral di 21 April untuk memaknai kebangkitan kaum perempuan yang dulu ditindas oleh pasukan kolonial dan antek-anteknya, tetapi coba renungkan sebentar, makna hari Kartini sebenarnya.
     Zaman sekarang, tanggal 21 April hanya sebuah perayaan saja, tanpa makna dan tanpa arti. Lihatlah keadaan di sekitar kita, masih adakah jiwa soerang Kartini yang melekat di perempuan Indonesia. Bagaimana bisa, ketika perempuan Indonesia, berdandan make-up tebal, memakai pakaian mini, mempertontonkan tubuh untuk siapa saja yang melihatnya. Banyak yang bergaya berlebih, bersikap arogan dan sedikit angkuh.
Sudah benarkah ketika kita merayakan Hari Kartini disaat para TKI disiksa oleh majikannnya?
Sudah benarkah ketika kita merayakan Hari Kartini disaat para wanita menjualtubuhnya demi rupiah yang ingin mereka dapatkan? Kamana Kartini Masa Kini?
     Ironis memang, jika tak ada lagi jiwa Kartini dalam tubuh perempuan Indonesia.
Mari kita renungkan sebentar, jangan terlalu sibuk dengan dunia politik, membiarkan kaum perempuan tak terpelihara. Nah, untuk kaum laki-laki, coba katakan pada perempuan di sekelilingmu :
Wanita itu tidak diciptakan dari tulang tengkorak laki-laki, karena dia bukan untuk dipuja dan dipuji.
Wanita itu tidak diciptakan dari tulang tangan laki-laki,karena dia buakn untuk di suruh-suruh.
Wanita itu tidak diviptakan dari tulang kaki laki-laki, karena dia bukan untuk di injak-injak.
Tapi, wanita diciptakan dari tulang rusuk kiri laki-laki, karena mereka dekat dengan hati.

Bangkit Wanita Indonesia. Maknai Hari Kartini bukan hanya sebagai bentuk perayaan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...