17 November 2010

Ikhlas-lah

Sering bagi kita memiliki sebuah pengharapan yang sangat kita nantikan kehadirannya, entah berupa sesuatu, seseorang, dan lainnya. Begitu tinggi, sehingga kita sedikit melupakan kegagalan yang sebenarnya lekat di samping kita. Begitulah manusia, kekurangan yang sebenarnya bias kita siasati akhirnya jatuh pada sebuah ego dan emosi.

Tidak banyak yang mampu kembali dalam kondisi yang stabil ketika kelabilan hati bertengger dengan nyaman dalam renda hati kita. Walau hanya sebagian yang mampu, itupun dengan kerja keras yang masih menorehkan sakit yang tidak biasa.

Satu kata kunci yang sebenarnya sangat ampuh mengatasi hal ini. Ikhlas. Itulah salah satu interpretasi dari sekian banyak keagungan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Kalamullah yang memang indah, namun sulit untuk kita aplikasikan. Ketegaran saja tidak cukup, namun semangat untuk terus memperdalam ilmu, ikhtiar, dan tawakal adalah langkah utama dalam pencapaian kalam tersebut.


Mudah sekali untuk mengetahui seluk dari kesulitan itu, perhatikan niat dan motivasi Anda. Berfilosofi dari paradigma hidup manusia, bahwa hidup pastilah memiliki misi dan visi yang akan dituju. Namun, tidak sedikit yang berujung pada putus asa. Putus asa berawal dari hilangnya motivasi dalam semangat perjuangan dalam penyelesaian misi dan putusnya motivasi dikarenakn pengharapan yang terlalu tinggi terhadap makhluk.

Perhatikan bagaimana kita memilih dan mencari motivasi, motivasi yang hakiki dan pasti adalah satu. Surga, yang jelas telah dijanjikan bagi seorang muslim. “man qola la ila haillallah da kholil jannah”, barang siapa yang mengatakan tiada tuhan selain Allah, maka ia akan masuk surga. Begitulah yang disabdakan oleh Rasul SAW.

Motivasi dan pengharapan yang hakiki akan memberikan dampak positif pada otak. Kondisi ini akan memicu kinerja syaraf otak untuk terus bersemangat dalam berbagai hal. Bandingkan dengan motivasi dan pengharapan yang semu dan motivasi terhadap makhluk, sesaat menyegarkan memang, namun masih saja ada sembilu yang melekat dalam titik-titik tertentu. Kekhawatiran akan sesuatu yang tidak pasti, misalnya. Justru tidak ada jaminan yang sangat berarti bagi mereka yang memiliki motivasi dan pengharapan yang bergantung pada makhluk. Itulah factor utama kegagalan dalam mencapai target atau misi dalam visi mereka. Dan hal inilah yang menciptakan pemikiran-pemikiran negatif, sehingga meninggalkan berkas ego dan emosi yang memiliki porsi besar dalam pengambilan keputusan. Keikhlasan hanyalah puing-puing yang tersisa dan, hanya akan hadir bersama penyesalan, bukan pada ikhtiar.

Lalu, bahaimana dengan motivasi Anda? Bagaimana dengan keikhlasan yang Anda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...