Aku berpaling, seperti tak dapat menemukan arah. Arah kehidupanku, arah perjalananku.
Setiap hari tekadku selalu kuat, optimis, tak kenal lelah dan tak pernah takut apapun. Memang itulah yang selalu aku tanamkan dalam diri, sebagai suluh membaranya semangat kehidupanku.
Aku selalu berusaha menjadi seorang tangguh, tak mau patah arah dan tak inginmelangkah setengah-setengah.
Apalagi ditambah dengan suapan-suapan nasehat dari ibuku, bertambahlah lobaran semangatku dalam menjalani hidup yang mungkin memang benar-benar keras.
Namun, mengapa ketika berhadapan dengan masalah hati dan cinta, diri ini seperti melemah. Seperti seekor harimau yang tak mau keluar kandang karena takut kehidupan luar. Saat in aku masih belum paham benar, mengapa pikiran dalam otakku berpikir selemah ini. Berpikir seperti seorang pengecut, seperti seorang pecundang ketika aku dihadapkan pada masalah hati, cinta dan wanita.
Raga ini seperti rapuh , rasa hati seperti terkikis hanya karena masalah itu. Dan sampai hari ini pun, aku masih belum mengerti betapa lemahnya aku ini.
Aku mencoba bercerita pada sahabat terbaikku, berharap segalanya kembali normal. Tapi memang tak berengaruh. Seketika aku merenung, mencari tahu apa penyebab sebenarnya yang menjadikan aku menjadi seperti ini. Kondisi seperti ini memang menbuatkubenar-benar sulit. Semangat-semangat dan optimisme tingi yang setiap hari aku lakukan ternyata harus terhalang saat ini, dan lagi-lagi hanya karena masalah hati.
Aku mencoba bertingkah seperti biasa di depan teman-temanku, mencoba tetap tersenyum, tertawa, terbahak, tapi hati memang tak bisa bohong. Hatiku seperti tertutup, tak ada penerangdidalamnya.
Sungguh benar-benar membingungkan. Dan terkadang aku berpikir, apa salahku hingga aku seperti ini?
Kebingungan ku ini belum terjawab.
Ternyata, Aku yang mencoba kuat. Mencoba menjadi seorang yang tangguh, tak takut kalah, tak ingin lemah harus tergores oleh tajamnya kepedihan yang menyangkut masalah hati.
Mungkin aku harus banyak bercermin, kembali menata diri, memperbaiki segala sesuatu yang ada.
Dan aku bertekad, tidak ingin lagi mengalami hal ini. Cukup sudah kejadian ini harus terjadi.
Tak ingin lagi. Tak ingin lagi. Tak ingin lagi !!
Aku mencoba bercerita pada sahabat terbaikku, berharap segalanya kembali normal. Tapi memang tak berengaruh. Seketika aku merenung, mencari tahu apa penyebab sebenarnya yang menjadikan aku menjadi seperti ini. Kondisi seperti ini memang menbuatkubenar-benar sulit. Semangat-semangat dan optimisme tingi yang setiap hari aku lakukan ternyata harus terhalang saat ini, dan lagi-lagi hanya karena masalah hati.
Aku mencoba bertingkah seperti biasa di depan teman-temanku, mencoba tetap tersenyum, tertawa, terbahak, tapi hati memang tak bisa bohong. Hatiku seperti tertutup, tak ada penerangdidalamnya.
Sungguh benar-benar membingungkan. Dan terkadang aku berpikir, apa salahku hingga aku seperti ini?
Kebingungan ku ini belum terjawab.
Ternyata, Aku yang mencoba kuat. Mencoba menjadi seorang yang tangguh, tak takut kalah, tak ingin lemah harus tergores oleh tajamnya kepedihan yang menyangkut masalah hati.
Mungkin aku harus banyak bercermin, kembali menata diri, memperbaiki segala sesuatu yang ada.
Dan aku bertekad, tidak ingin lagi mengalami hal ini. Cukup sudah kejadian ini harus terjadi.
Tak ingin lagi. Tak ingin lagi. Tak ingin lagi !!

Just blog walking and want to say hi to the owner, I'm enjoying reading your review/story
BalasHapusthanks
Dexter Season 5 Episode 2 Hello, Bandit