18 September 2011

Pesan Moral dari Negeri Sakura

Masalah telur tampak sederhana. Teman saya, publisher sebuah majalah terkenal, tergila-gila pada telor. Hampir di setiap kesempatan makan, urusan telur tak pernah ketinggalan. Dari mulai sarapan, makan siang, sampai makan malam, menu telur tidak boleh ketinggalan. Sepertinya tidak lengkap jika tidak ada unsur telur.

Namun urusan telur itu mendadak jadi rumit ketika kami berada di Jepang. Suatu hari, saat makan siang, di salah satu menu disebutkan ada makanan yang disajikan dengan telur goreng setengah matang di atasnya. Terbit air liur sang kawan. Tapi setelah tahu ada bahan yang haram, dia mengubah pesanannya. Kepada waiter, dia wanti-wanti agar telur setengah matang tadi bisa dipindahkan ke pesanan yang baru. Sang waiter menggeleng. Permintaan yang "sepele" itu tidak dapat dipenuhi karena menu yang baru memang ditawarkan tanpa telur. Setelah melalui perdebatan, akhirnya kami minta agar dia memanggil manajer restoran. Kepada sang manajer, kami jelaskan soal keinginan tadi. Dengan permohonan maaf berulang-ulang, dia mengatakan permintaan itu tidak bisa dikabulkan. Apa yang ditawarkan, itulah yang bisa mereka sediakan. Meskipun kami sudah menawarkan membayar berlipat untuk telor itu. Sulit dipahami kan?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...